Indra Tranggono
sinarharapan.co.id
ANGIN terasa mati, ketika perahu yang ditumpangi Sureng membelah hamparan air danau. Gerak dayung dua pengemudi perahu mengirim bunyi kecipak ke gendang telinga laki-laki berbadan kurus, berambut lurus dan berwajah tirus itu. Sureng, sambil menyulut rokoknya, menoleh ke belakang, menatap dermaga yang semakin mengecil. Lampu-lampu tampak menggigil. Aroma tembakau beredar di udara sekitar. Dalam keremangan cahaya bulan, seorang wanita, yang sejak perahu itu meninggalkan dermaga duduk terdiam, tampak menutup hidungnya. Continue reading “Dua Peziarah”
