Laki-Laki Suami Dhanty

Wina Bojonegoro
http://sastra-bojonegoro.blogspot.com/

Awalnya sungguh manis. Sangat memacu adrenalin.

”Tunggu aku di pojok es krim seperti biasa, jam makan siang.” Tetapi pesan singkat melalui ponsel itu terlalu pagi, pada jam di mana biasanya ia masih berbasa-basi dengan istrinya. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang yang sedang kasmaran selain menyambutnya dengan suka cita? Kebodohan atau naluri? Sama-sama tak mengenal batas. Manusia sering melupakan sebuah fakta bahwa hal-hal natural itu terkadang identik dengan kedunguan. Andai saja pada saat yang bersamaan akal sehat mampu berperan, memberi secercah cahaya di antara gelap gulitanya siang yang benderang. Continue reading “Laki-Laki Suami Dhanty”

Cermin Dua Zaman

Emil WE
http://oase.kompas.com/

Sayup-sayup lagu Indonesia Raya berkumandang tak jelas dari sebuah radio transistor tua milik tukang parkir di depan gedung, bergemerasak. Merah-putih tertali layu di tiang pelataran, lesu. Sementara di dalam ruangan, sosok petugas berwajah ramah terus asyik membubuhkan stempel pos di pojok kanan-atas surat. Jetak! Jetak! tangannya terayun kuat sambil terus menyungging senyum. Continue reading “Cermin Dua Zaman”

PATUNG SANG GUBERNUR

Tjahjono Widarmanto
http://www.surabayapost.co.id/

Lelaki yang duduk di kursi malas di sudut ruangan itu berusia sekitar lima puluh lima tahun ke atas. Wajahnya tampak lelah, namun masih segar dan gagah. Hanya keriput di sekitar mata dan leher yang tak dapat menyembunyikan kesenjaannya. Tubuh yang tambun dengan lemak yang bergelambir di perut dan leher semakin menunjukkan kesenjaannya.

?Mi?Mi..Mami!? tiba-tiba lelaki itu berteriak keras, sambil terbatuk.

?Ada apa Pi,? terdengar suara lembut dari seorang perempuan yang muncul dari balik pintu. Perempuan itu usianya sudah melewati separo baya mengenakan baju hangat warna hijau, datang tergopoh. Continue reading “PATUNG SANG GUBERNUR”

PERTENGAHAN NOVEMBER YANG MENIKAM-NIKAM *

Ghassan Kanafani **
Alih Bahasa: Misran ***
http://www.riaupos.com/

Duhai Ibrahim…!

Entah kepada siapa pesan ini harus kutujukan. Aku tak tahu. Padamu sudah kujanjikan, tiap pertengahan November akan membawakan karangan bunga tanda kasih ke makammu, untuk kutebarkan. Sekarang sudah pertengahan November pula, dan belum satu karangan bunga pun kudapatkan. Sekiranya kudapat, bagaimanakah aku dapat sampai ke makammu dan memberikannya padamu? Padahal sudah dua belas tahun berlalu. Continue reading “PERTENGAHAN NOVEMBER YANG MENIKAM-NIKAM *”

Perempuan Yang Menanti

Wina Bojonegoro
http://sastra-bojonegoro.blogspot.com/

Stasiun Pasar Turi selalu penuh sesak di malam hari. Lalu lalang manusia, bagai aliran sungai yang tak kenal henti, berbaur aneka kepentingan, bau badan, penjual koran, kuli angkut dan tak lupa calo. Beberapa menit lagi kereta Argo Bromo akan membawaku pulang ke Jakarta, pada rutinitas kehidupan yang sesungguhnya. Baru saja melangkahi peron, pengumuman sudah berkumandang, kereta telah siap di jalur satu. Tapi aku belumlah selesai. Perempuan ini aku tenteng kemari agar aku sempat bicara, semalam dan sepagian, bahkan sesiangan ini aku terlalu asyik mendengarkannya hingga tak ada waktuku bicara. Kini saatnya. Continue reading “Perempuan Yang Menanti”

Bahasa ยป