Denting Piano Mr. Lee

Elnisya Mahendra
http://sastra-bojonegoro.blogspot.com/

Baru saja kumasuki pintu rumah, kugeletakkan begitu saja belanjaandi lantai dapur. Istirahat sebentar di sofa ruang tamu. Aktifitas berbelanja kepasar akhir-akhir ini sungguh sangat melelahkan. Sebenarnya bukan karena letak pasar yang jauh, tapi karena aku memang belum hafal di mana tempat barang barang yang aku butuhkan dijual. Apalagi pasca Imlek seperti ini, harga sayurpun melonjak 3-4 kali lipat dari harga sebelumnya, katakakan 1 ikat Choy-sam ( sawi hijau) yang dulu cuma $ 3, sekarang menjadi $ 1O per ikatnya. 1 buah bawang bombaypun harus aku beli dengan $ 7. Otomatis aku harus pintar-pintar mengatur uang belanja yang hanya $ 1OO untuk 3 hari, kalo tidak ingin dikatakan korupsi. Ini saja kadang kadang harus merogoh dompetku sendiri jika ada sayur yang kemahalan aku beli. Continue reading “Denting Piano Mr. Lee”

Mual

Gde Artawan

Beranda

Tiga bulan terakhir ini aku merasakan kondisi yang sangat tidak mengenakkan. Aku merasa mual. Sungguh. Tidak lantaran kondisiku yang agak terkuras setelah menjadi pengantin baru, bukan pula lantaran Leny — wanita kampung biasa-biasa saja yang kini jadi istriku — hamil, tidak. Rasa mual ini menghantamku secara membabibuta tanpa aku diberi penjelasan yang komprehensif, paling tidak secara nalar dapat dirunut sebab musababnya. Continue reading “Mual”

Dolar Dalam Amplop Coklat

Wayan Supartha
http://www.balipost.co.id/

Tengah malam, Made Darmi mengigau, ”Beli… beli tak usah jujur.” Seraya menggeliat gelisah, igauannya itu dilanjutkannya. ”Sekarang zaman Kaliyuga. Mana ada orang jujur. Presiden saja bisa berkuasa tigapuluh tahun lebih dan menilep uang rakyat bertahun-tahun. Banyak pejabat yang menilep uang rakyat bermilyar-milyar. Kok kita rakyat kecil tak boleh?”

LANTARAN hanya mengigau, Gede Arka tak bernafsu mendengarkannya. Malam ini, ia sangat capek. Ia ingin cepat-cepat tidur lelap, agar bisa bangun pagi keesokan harinya. Continue reading “Dolar Dalam Amplop Coklat”

Sahur Hari Pertama

Sutan Iwan Soekri Munaf
suarakarya-online.com

Membangunkan Dulah?
Rifai tampak enggan. Pasalnya, membangunkan adiknya ini seperti mengangkat batu besar yang jatuh ke dalam sumur. Alang kepalang susahnya. Tidur Dulah mirip orang mati. Jika pun terbangunkan, dia duduk sejenak di tepi ranjang dengan mata tetap tertutup, namun beberapa saat saja, sudah terlentang, melanjutkan tidurnya. Continue reading “Sahur Hari Pertama”

Dendang Itu

Ratna Indraswari Ibrahim
http://www.suarakarya-online.com/

Sami, mendendangkan lagu ini, “Putri, ini Ayah. Ayah, ini Putrimu.” Lantas kudengar suara Sami tertawa bersama putriku, diakhir setiap dendang itu.

Aku selalu ingin keluar dari tubuhku, kalau kudengar dendang itu. Tapi, aku tidak bisa melakukan apapun, tentu saja. Seperti aku tidak bisa mengatakan pada Sami (suamiku) siapa ayah, dari putriku? Continue reading “Dendang Itu”

Bahasa ยป