Tandan Tanggal*

S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/

KEMUDIAN yang tertinggal penggalan kenang yang hampir tanggal. Bertandang dari laman-laman masa silam. Pada setiap waktu yang kita ramu. Pada warta-warta terkata.

Ketika masa mengaribkan kita, kau wanodya penuh ria. Aku suka menghitung tapakmu di antara bunga rumput dan bebatu. Dengan cengkrama yang selalu berbeda, kau wedarkan segala ruah rasa. Dalam tawa dan nelangsa, kau cecap setiap makna. Lalu aku terbiasa dengan seluruhmu; sungging senyum, kecumik manja, sedan hampa, hingga nganga luka yang kau punya. Continue reading “Tandan Tanggal*”

Quthuz

Imaduddin Zanki
http://www.lampungpost.com/

DARAH Saifuddin Muzaffar Quthuz mendidih. Senarai surat dari Hulagu Khan, pemimpin besar bangsa Mongol, ia lipat. Meski wajahnya yang putih terlihat memerah, Quthuz mencoba menenangkan diri. Mulutnya lamat-lamat beristigfar. Ia tahu dia adalah dari kelas pekerja Bani Mamluk. Namun, sekarang, ia adalah mata rantai kekuasaan Islam yang tersisa. Abbasiyah di Bagdad sudah jatuh. Satu juta delapan ratus ribu muslim mati. Aliran sungai di semua Bagdad bahkan menghitam. Tinta dari jutaan kitab cendekiawan muslim menganak sungai. Continue reading “Quthuz”

Percintaan Empat Puluh

Muhammad Muis
lampungpost.com

HARI masih pagi benar. Sesekali masih terdengar kokok-kokok ayam dari seputar rumah dan kebun-kebun penduduk. Burung-burung riang bercericit gembira beranjak dan terbang dari sarang-sarangnya dan mulai beterbangan kian kemari, bersenda gurau menyambut pagi, menyambut hari baru. Halimun masih menyelimuti desa kecil itu. Di ujung pematang, di kejauhan, di antara rimbun pepohonan, belukar, dan gunung yang kekar sang mentari belum tegas memperlihatkan garang sinar emasnya, seakan masih malas beranjak dari peraduannya. Continue reading “Percintaan Empat Puluh”

Padepokan

Swandini Wiratmo
http://www.lampungpost.com/

SUARA orang ber-uro-uro tembang Jawa terdengar gamblang di lereng Merapi. Ditingkahi angin yang sejuk, para pria tampak nikmat menghisap rokok linting klembak menyan, dari tembakau irisan. Bau kemenyannya menyebar ke mana-mana dan membuat pusing.

Enam penari serimpi meliuk-liuk lemah gemulai. Orang-orang desa, tua, muda, dan anak-anak asyik menyaksikan pementasan geladi resik wayang orang di Padepokan Seni Cipta Budaya, di samping kantor kelurahan. Kendati begitu, di luar pun anak-anak dengan bertelanjang kaki berlari-larian bermain jitungan. Mereka sepertinya tak terusik tarian-tarian yang akan digelar pada malam Suro itu. Continue reading “Padepokan”

Bahasa ยป