Batu-Batu di Mana-Mana

Denny Mizhar

Ketika pertama kali datang di kota ini. Adalah rasa cemas yang saya rasakan. Sebab baru pertama kali. Hanya nomer telphon milik tetangga yang sudah lama tinggal di Malang sebagai bekal di mana nantinya saya singgah pertama. Di terminal sehabis turun dari bis. Saya mencari warung telphon. Akhirnya saya dapat alamat tempatnya di jalan MT. Hariyono.

Saya bertanya angkot apa yang harus saya naiki menuju jalan tersebut. Continue reading “Batu-Batu di Mana-Mana”

Cermin

Agus B. Harianto

Cermin itu telah retak. Retakannya membentuk garis tak beraturan. Layaknya pantulan petir menyambar pepohonan. Sebuah garis tak beraturan memisahkan dua sisi retakannya. Dari pojok kanan atas. Memecah keutuhan cermin hingga kiri bawah. Tak ayal lagi, bias sebelah kanan menjadi lebih tinggi. Cermin itu layak tak terpakai. Seharusnya dibuang. Untuk mengaca pun, cermin itu terasa kurang pas. Apalagi mengamati pantulan kekurangan riasan diri. Continue reading “Cermin”

Susan

Isbedy Stiawan Z.S.
lampungpost.com

PADA hari kesembilan dari pertemuanku yang pertama dengan Susan, sehabis isya kami berjumpa lagi di tempat sama–perjumpaan tanpa sengaja. Kutegaskan tidak sengaja, sebab tanpa didahului dengan perjanjian karena aku tak pernah menghubunginya melalui telepon selular sekadar helo. Apalagi sampai saling mengirim pesan pendek. Bahkan aku hampir saja sudah lupa dengannya, lupa dengan pertemuan kami pertama kali, Rabu malam lalu. Continue reading “Susan”

Biola Tua dan Sepotong Mimpi

Nurhandayani
http://www.lampungpost.com/

SUARA merdu yang mengalun dari gesekan biolamu selalu dapat membawaku kepada mimpi-mimpi terdahulu, yang pernah kugantungkan pada langit-langit dan kulupakan begitu saja. Untuk alasan yang tak pernah kumengerti, tak kulanjutkan mimpi itu. Mimpi itu pun terlupakan sampai akhirnya aku menemukanmu.

Dan kini mimpi itu mencuat kembali… Continue reading “Biola Tua dan Sepotong Mimpi”

Bahasa ยป