Seruni

Sunlie Thomas Alexander
http://www.lampungpost.com/

DI Bubus tak ada wayang, selain ponton-ponton1 terus memanjang. Berjejer dari ujung ke ujung; dari lantai pantai hingga jauh ke tengah laut China Selatan. Membuat ombak yang biru berubah kecokelatan oleh solar, lumpur, dan sampah polutan.

Dan terkadang mereka saling menyalib. Entahlah, membuat ombak kian berbuih. Sehingga ketegangan pun sering terbangun diam-diam, memanas terpanggang matahari. Untung jarang terjadi perkelahian di tengah laut. Continue reading “Seruni”

Embun di Mata Wie

Syaiful Irba Tanpaka
http://www.lampungpost.com/

Setiap menjelang pagi mata Wie dibasahi butiran embun. Seperti di atas daun, butiran embun itu tampak bulat bening dan segar. Dan bila matahari muncul menyinarinya; butiran embun itu berkilau-kilauan bak permata sehingga membuat mata Wie bercahaya. Dan bila itu terjadi, maka setiap orang akan terpukau memandang kecantikan Wie yang berubah seperti bidadari. Continue reading “Embun di Mata Wie”

Sepercik Cahaya Tuhan

Restoe Prawironegoro Ibrahim
http://www.lampungpost.com/

Tiba-tiba saja Nunung terjangkit penyakit diam. Rekan-rekan indekosnya sempat dibikin celingukan. Selama ini ia dikenal sebagai gadis yang lincah, periang, dan teramat mudah untuk beradaptasi. Di mana ada Nunung, disitulah terjadi suasana gelak tawa meledak-ledak. Namun, sampai sore ini ia masih diam seribu bahasa. Bahkan berbagai permintaan pengisian acara juga ditolaknya tanpa berkomentar apa-apa. Continue reading “Sepercik Cahaya Tuhan”

Sigi ?Piningit?

S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/

INI adalah masa sulit hidupku. Melewati dua belas tahun usiaku, menjadi petaka bagi ruhaniku yang haus pengetahuan. Saatnya kutinggalkan semua kenang di puri kebijaksanaan. Dipaksa usai memamah hikmah menjadi duka yang tak ku suka. Saat paling mengerikan yang tak pernah kuharapkan kehadirannya. Aku harus berdiam di balik tembok-tembok keangkuhan adat yang menandaskan seluruh cita. Menaati tradisi yang tak kumengerti. Continue reading “Sigi ?Piningit?”

Puing-puing

Muhammad Amin
http://www.lampungpost.com/

ADA sekelumit hati yang merindukan rumah. Merindukan sebuah bangunan yang bisa ditinggali bersama keluarga. Tapi kapankah? Bukankah harapan itu hanya sia-sia. Karena tak ada lagi orang tua, tak ada lagi suasana rumah seperti dulu. Tak ada kenangan masa kecil. Segalanya telah runtuh menjadi puing.

Dia–seorang anak muda, melihat puing-puing berserakan. Di mana-mana. Di wajah orang tua. Di tanah kering. Ombak pecah jadi puing. Ranting patah jadi puing. Air mata luruh jadi puing. Hujan jatuh jadi puing. Sengketa usai jadi puing. Tawa berderai jadi puing. Continue reading “Puing-puing”

Bahasa ยป