Posted by PuJa on May 8, 2012
Horacio Castellanos Moya * Koran Tempo, 22 April 2012 AKU mulai sering mengun jungi Café Imperial sejak aku pindah ke apartemen temanku Hernando Salcido, sebuah apartemen yang luas berperabot lengkap di Jalan Jesús y María yang akan menjadi milikku selama sebulan penuh karena temanku, istrinya, dan anak perempuannya sedang menikmati liburan musim panas di rumah [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on May 3, 2012
Hamsad Rangkuti http://cerpenkompas.wordpress.com/ Pagi itu aku keluar dari kamar hotel. Aku menguap. Aku masih setengah mengantuk. Aku jalan pagi di kota kecil itu. Kutemukan sebuah tata kota lama khas Jawa, sebuah alun-alun di depan tempat kediaman resmi bupati, masjid tua di baratnya dalam cahaya redup sisa lampu, gereja tua di timurnya hampir tertutup rimbun pohon.
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on April 23, 2012
A Mustofa Bisri Kompas, 15 April 2012 RIBUAN bahkan puluhan ribu pelayat dari berbagai kota yang menangis itu, tampaknya tak seorang pun yang datang berniat menghiburku. Mereka semua melayat diri mereka sendiri. Hanya orangtuaku dan beberapa orang famili yang terus menjagaku agar aku tidak pingsan seperti banyak santri yang sama sekali tidak siap ditinggal almarhum.
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on
Tita Tjindarbumi http://www.lampungpost.com/ PEREMPUAN bertubuh semampai itu memang tak seperti perempuan yang berprofesi sama dengannya. Penampilannya agak berbeda. Dilihat dari bodinya, jelas ia bukan tukang pijat biasa. Penampilannya rapi dengan dandanan yang pasti membutuhkan waktu cukup lama, Tatiek diduganya tukang pijat plus-plus. Tubuhnya yang langsing dan beraroma menyengat itu, membuatnya sempat berpikir lain. Apa Ijah [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on
Ben Sohib Koran Tempo, 8 April 2012 KAMPUNG Melayu Pulo tentulah bukan satu-satunya kampung di Jakarta yang dipenuhi haji dan pemabuk sekaligus. Tapi sangat mungkin hanya di sinilah dua pemuda mabuk dan seorang haji bisa duduk di balai-balai yang sama dalam sebuah majelis taklim. Sesungguhnya kata ini tak tepat menggambarkan kegiatan yang sebenarnya.
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on
Guntur Alam http://www.lampungpost.com/ BANYAK cerita yang beredar tentang tenggelamnya kapal yang dikomandoi Kapten Hendrik van der Decken di Tanjung Harapan, 1641. Kapal dagang VOC yang bertolak dari Batavia dengan membawa rempah-rempah menuju Holland. Dari sekian banyak cerita yang ada, semua seolah sepakat kalau peristiwa naas itu akibat ulah Kapten Hendrik van der Decken yang bersekutu [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on
Sam Edy Yuswanto Republika, 15 April 2012 SEPULANG bertugas dari luar kota, Marni, istriku, menyambut kedatanganku di depan pintu rumah dengan wajah gemas. “Pokoknya Mas mesti nyari kucing, sore ini juga!” Huft, badan penat begini, langsung disambut ceracau nyinyir istri. Hei, dia bilang aku harus nyari kucing? Buat apa?
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on
Hery Firyansyah http://www.suarakarya-online.com/ Rio, mendendangkan lagi tembang kenangan itu. “Putri, ini Ayah. Ayah, ini Putrimu.” Lantas kudengar suara Rio tertawa bersama putriku, diakhir setiap dendang itu. Aku selalu ingin keluar dari tubuhku, kalau kudengar dendang itu. Tapi, aku tidak bisa melakukan apapun, tentu saja. Seperti aku tidak bisa mengatakan pada Rio (suamiku) siapa ayah, dari [...]
Filed under: Cerpen
Posted by PuJa on
Indra Tranggono Kompas, 8 April 2012 SELALU setiap hari, Sumbi menyiapkan bubur gula jawa kesukaan Murwad, suaminya. Bubur itu ia buat sendiri, dari beras terbaik—rojo lele—yang dicampur santan kelapa kental, sedikit garam dan ditaburi gerusan gula jawa. Setiap menyajikan bubur itu, mulut Sumbi selalu mengucap doa untuk keselamatan Murwad yang hingga kini belum pulang.
Filed under: Cerpen