Hedonis

A. Rodhi Murtadho *

Hedonisme makin menancap di setiap ruh. Menyanyikan gemerlap malam dalam kelakar tawa. Menarikan tubuh dengan liuk-liuk rancak. Mempuisikan segala umpatan. Bercerita dengan segala dengus birahi. Mengumpat dengan kata-kata bijak. Menasehat dengan kemabukan kata. Menggirangkan tawa dalam tangis. Tak peduli dengan apapun. Asalkan bisa mengundang kesenangan, tentu akan ditempuh. Melawan kodrat, melanggar norma, sudah menjadi kewajaran dan lumrah. Continue reading “Hedonis”

Cerita Kecil tentang Pohon dan Belukar Masa Kecilku

Raudal Tanjung Banua *
korantempo.com

CERITA ini bermula ketika aku berangkat ke suatu tempat, dan dari kaca bus yang terbuka kulihat sebatang pohon menyendiri di tengah keluasan padang. Pemandangan sekilas itu, entah mengapa, seketika membawa bus yang kutumpangi seakan berjalan ke belakang, melewati pohon-pohon dan belukar masa kecilku. Masa ketika mataku masih setengah terpejam, belum banyak melihat apa yang ada di balik tempurung kampung. Ketika kini sengaja kubuka mata, aku justru terhantar ke sebatang pohon kayu putih di keluasan padang gembala, di mana diriku dan kawan-kawan penggembala terasa kekal di sana. Continue reading “Cerita Kecil tentang Pohon dan Belukar Masa Kecilku”

Akhir Musim

Sunlie Thomas Alexander
http://suaramerdeka.com/

Aku simpan janjimu dalam setiap pagiku, setiap malamku. Suatu saat nanti aku akan menagih dan kau tidak boleh kaget lantas bilang tidak.

SUNGGUH-SUNGGUHKAH aku berjanji? Atau hanya terlampau takut membuatmu kecewa? Gerimis akhir musim tiba-tiba membesar disertai deru angin yang menjadi liar serupa kelebat bayangmu dalam kepalaku. Aku urung beranjak dari teras warung tempat aku baru saja menghabiskan semangkok mie ayam sambil berbalas SMS denganmu. Kurapatkan jaketku sekadar mengurangi rasa dingin yang merasuki pori-pori. Tetapi, seolah ada yang lebih dingin lagi merayap dalam dadaku. Continue reading “Akhir Musim”

Hikayat Prapanca

Dwicipta
http://suaramerdeka.com/

BILA suatu saat anak cucuku bertanya kenapa aku menuliskan kakawin ini, adakah mereka tahu jika telah kusuling dendam kesumatku menjadi puji-pujian memabukkan dalam kakawin ini?”

Dadanya berdegup kencang menyaksikan hasil karyanya selama ini. Udara pegunungan sore hari terasa semilir. Mestinya bisa mendamaikan kekisruhan dalam dirinya. Sayang, ia diliput bayang-bayang kelam masa lalu. Continue reading “Hikayat Prapanca”

Bahasa ยป