Cinta pada Musim Kolera

Gabriel Garcia Marquez
Penerjemah: Anton Kurnia
suaramerdeka.com

IA tak pernah bepergian jauh sebelumnya. Ia membawa kopor seng berisi pakaian, novel-novel grafis yang dibelinya setiap bulan, dan buku-buku berisi puisi cinta yang ia kutip dari ingatan dan nyaris rusak karena terlalu sering dibaca. Ia tak membawa serta biola miliknya karena benda itu dekat dengan nasib sial, tetapi ibunya memintanya membawa petate, sebuah tempat tidur gantung lipat dengan bantal, selimut, dan kelambu yang terkemas rapi. Continue reading “Cinta pada Musim Kolera”

Sebuah Mimpi

Agus Sunarto
http://www.suarakarya-online.com/

Semalam saya bermimpi begitu indah, Kang,” kata Rofiq kepada tetangganya. “Saya memasuki kehidupan yang begitu dinamis, tapi tenang dan menggetarkan. Segalanya penuh dengan cinta.”
“Seperti dalam sinetron atau film itu?”

“Bukan tentang manusia baik dan manusia jahat seperti itu. Manusia dalam impian saya, ada dalam ketegangan baik dan buruk. Semua tindakan didukung oleh sebab sosiologis dan psikologis.” Continue reading “Sebuah Mimpi”

Sirkus Kuda Tante Rosa

Karya: Sevgi Soysal (1936-1976)
Terjemah versi Inggris: Amy Spangler
Terjemah versi Indonesia: Anton Kurnia
korantempo.com

PADA umur sebelas, Tante Rosa membaca tulisan di bawah foto Ratu Victoria dalam majalah mingguan Kau dan Dirimu: “Ratu Victoria yang berumur 18 tahun menginspeksi Pasukan Kavaleri Kerajaan. Sekali lagi Yang Mulia berhasil menaklukkan hati pasukan kavaleri dan rakyat seluruh negeri.” Continue reading “Sirkus Kuda Tante Rosa”

Teh Tanpa Gula

Win R.G.
http://www.hariansumutpos.com/

Lambat-lambat kulihat ia melembutkan jahe seukuran kelingking di sebuah batu, tampaknya malam ini sakit kepalanya kumat lagi. Jika jahe itu selesai ditumbuk, akan langsung ditempel di kepalanya kanan dan kiri dekat mata dan direkatkan dengan sehelai kain. Maka jadilah ia seorang pendekar sepanjang malam.

?Kenapa, Mak?? tanyaku yang membuntutinya sedari tadi. Ia menoleh ke arahku dengan berat, matanya menyipit seperti menahan sakit yang amat sangat. Continue reading “Teh Tanpa Gula”

Sihir Pasir

Miftah Fadhli
http://www.hariansumutpos.com/

Di pantai itu aku melihat sepucuk awan membentuk perlambang. Sebuah awan menggumpal dengan dua pucuk menggembung, dimana lembahnya membentuk lengkung ganjil yang tajam: hati.

Apakah itu lambang bahwa di sini, di Pantai Putra Deli ini aku bisa menemukan cinta sejati? Tidak. Aku tidak berharap bisa menemukan siapapun. Sebab di sini aku hanya bisa melihat sebaris gelombang berderai-derai berlomba menuju bibir pantai. Sisa-sisa cangkang kerang yang terdampar membentuk segaris berlengkung-lengkung. Continue reading “Sihir Pasir”

Bahasa ยป