Fenomena

Maghfur Saan
http://www.suarakarya-online.com/

Sungguh fantastis! Tiba-tiba pemahat yang biasa menjajakan hasil pahatannya ke segenap lorong dan jalan itu mendadak terkenal.

Hasil pahatannya diburu orang. Tiap hari ratusan bahkan ribuan orang datang ke rumahnya ingin mendapatkan hasil pahatannya itu. Tentu saja ia tak pernah lagi menjajakan ke mana-mana.
Anehnya berapapun banyak pesanannya selalu disanggupi. Semua pembeli juga merasa senang. Continue reading “Fenomena”

J u l e h a

Weni Suryandari
http://www.suarakarya-online.com/

Sudah sepekan ini Julaeha – gadis dusun yang diangkat anak oleh mak Rosyidah – mendekam di balik jeruji besi. Tak tergambar kelelahan atau mimik sedih karena mendekam di sel kaku itu. Wajahnya bahkan terlihat dingin jika ada tamu, kerabat atau famili yang mengunjunginya. Ia tahu kesalahannya apa, dan sudah tahu resikonya. Tapi ia puas. Continue reading “J u l e h a”

Keranda

Muhammad Amin
http://www.lampungpost.com/

DI setiap usungan keranda, ia percaya ada manusia bahagia di dalamnya. Ada manusia-manusia yang lega terbebas dari petaka. Ada pula manusia-manusia yang terbebas dari lilitan utang yang sekian lama menjeratnya atau sebuah tanggung jawab besar yang jika ia masih hidup akan membuatnya kian tersiksa. Maka, dengan kematian seseorang telah terbebas dari banyak hal. Terputus dari segala macam hiruk pikuk duniawi. Maka ia-seorang laki-laki tak dikenal itu, membuat kesimpulan sendiri menurut versinya: orang-orang yang berada di dalam usungan keranda dan terbungkus dalam kain putih bersih adalah manusia-manusia bahagia. Continue reading “Keranda”

Stasiun Bersayap Embun

Sungging Raga
http://www.lampungpost.com/

RARA sudah membayangkan bahwa ingatannya akan dengan cepat kembali ke masa lalu setiap kali ia duduk di bangku stasiun ini. Ia tak bisa lagi memendam kerinduan yang tak asing itu. Di sini, tiga tahun lalu. Ia melepas kepergian Ani, sahabat yang sudah dekat dengannya bertahun-tahun selama kuliah.

“Aku tak pernah menyangka perpisahan begitu menyakitkan.” Continue reading “Stasiun Bersayap Embun”

Pendet

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

?Ini bukan hanya masalah tari pendet. Bukan hanya masalah orang Bali. Ini harga diri kita sebagai bangsa. Kita tersinggung! Pulau direbut, hutan dicuri, TKI disiksa bahkan ada yang mati. Warisan budaya, tarian, bahkan masakan diklaim sebagai milik mereka. Ini sudah melanggar hukum. Satu kali oke, kedua kali masih oke, tapi kalau sudah berkali-kali namanya menantang. Kalau dibiarkan nanti jadi kebiasaan. Kita bisa dianggap bangsa kelas dua yang boleh diremehkan. Tidak! Kita harus marah! Apa mau mereka memanas-manaskan tungku yang sudah mendidih? Mentang-mentang kaya! Sakit hati karena pernah kita ganyang? Oke sekarang kita juga sakit hati. Dan berkali-kali! Kepala sudah beku karena coba dididingin-dinginkan. Kita tidak tahan lagi, kita harus ganyang!?. Continue reading “Pendet”

Bahasa ยป