Capres

Putu Wijaya
http://www.jawapos.co.id/

Saya sedang sarapan pagi di sebuh hotel di Pulau Bintan, ketika seorang lelaki tampan dan kekar menghampiri. Ia tersenyum sehingga saya tidak sanggup berbuat apa-apa, ketika dia menarik kursi dan menanyakan apa dia boleh bergabung.

”Bapak tidak kenal saya, tapi siapa yang tidak kenal Bapak,” katanya sambil menyodorkan sebuah kartu nama yang sangat meyakinkan. Continue reading “Capres”

Riak Telaga di Bening Mata: Perempuan

Gita Pratama
http://www.kompas.com/

Dengan langkahnya yang mantap setelah ia meninggalkan senyum tipis, ia membalikkan tubuhnya dariku. Tapi tak segera kutemukan guncang dipundaknya. Ia meninggalkan malam yang hambar begitu saja. Kemudian langkahnya semakin melebar ketika terdengar ricuhan bintang yang sedang mabuk, menirukan tangis hewan malam yang sengau di telinga. Perempuan itu telah memutuskan untuk memilih pergi dariku, ya.. perempuan bermata bening itu akan begitu saja pergi. Continue reading “Riak Telaga di Bening Mata: Perempuan”

Badar Besi

Damhuri Muhammad
http://www.jawapos.com/

(1)
Centeng los daging yang ditakuti para pemalak di pasar ini di masa lalu hanya seorang tukang cukur. Meski begitu, menjadi tukang cukur, baginya, adalah sebuah kuasa yang belum tentu dimiliki oleh pembunuh bertangan dingin sekalipun. Betapa tidak? Tanpa gamang dan was-was, leluasa tangannya menekan, menekuk, dan bila perlu memelintir tempurung kepala siapa saja yang sedang dicukurnya. Di tangannya, semua kepala sama harganya, atau barangkali tak berharga. Continue reading “Badar Besi”

Peluncur dari atas Bukit

Rini Asmoro
http://www.facebook.com/people/Rini-Asmoro/1639163964

Bukit dan lembah dan langit hijau dan pohon biru, hamparan rumput bak beledu menghias. Pondok tempat tinggalku tepat berada di kaki lembah membelakangi bukit. Selalu menyenangkan berada di tempat berselimut biru pohon seperti ini, mencumbu hijau mencumbu biru bercinta dengan alam. Sendiri. Menyendiri, mencoba melupakan segala sesuatu yang membuat sedih, mencoba melupakan segala bahagia yang pernah hadir. Kerap aku duduk berlama-lama memeluk lutut beralas rerumputan, damai tiada tara walau hanya berkawan angin berkawan sepi berkawan bisu. Continue reading “Peluncur dari atas Bukit”

Monsoon

Clara Ng
http://www.korantempo.com/

SUARA menggedor kencang berasal dari arah atap. Dengungan angin menderu-deru seperti suara truk yang kehabisan tenaga bersama hantaman air jatuh bergelung-gelung di halaman rumah. Bumantara mengucurkan warna yang paling kelabu selama satu jam belakangan ini. Aku menekan jendela nako ke bawah, menutup sirip-sirip kacanya. Barusan suara klik menandakan jendela telah terkunci, petir berpacu turun dalam gelegarnya menyalangkan pintu langit. Continue reading “Monsoon”

Bahasa ยป