‘Sesiah’ Terakhir

M. Harya Ramdhoni Julizarsyah *
lampungpost.com

Belantara Hanibung, Tanah Bumi Sekala Bgha tahun 1289 Masehi

Sinar matahari pagi yang menembus reranting pokok Sekala menyadarkannya dari pingsan. Kekuk Suik tak tahu pasti berapa lama tak sadarkan diri di dalam belantara ini. Manakala ia siuman segalanya telah tiada. Kekasih yang dicintanya dengan sepenuh hati telah berpulang ke pangkuan dewa dewi. Kepahitan adalah yang tertinggal baginya. Hanya jerit menghiba Seperdu kekasihnya terakhir kali terdengar. Dan amarah Ibunda Ratu Sekeghumong mengguntur memenuhi Lamban Batin Ngajenguk. Disusul suara berderak leher sang kekasih dipatahkan terakot tombak empat algojo. Continue reading “‘Sesiah’ Terakhir”

Wanita yang Lahir pada Hari Kamis

Putu Nopi Suardani*

Beranda

“KENAPA kau tak juga menikah?” wanita di hadapanku menanyakan itu lagi di setiap pertemuan di meja makan. Jika ada 365 kali makan malam yang kami lalui bersama sejak wanita itu resah akan kehadiran cucu, berarti sudah lebih dari 365 kali kudengar kalimat yang isinya sama.

Pernah dalam sebuah makan malam, wanita yang sudah 30 tahun menjadi ibuku itu tak henti-hentinya menanyakan kapan aku akan menikah. Itu bermula dari undangan pernikahan sepupuku. Continue reading “Wanita yang Lahir pada Hari Kamis”

Penghikayat Ular

Mardi Luhung
jawapos.com

Adam, berapa tahun kita terusir? Apa 100, apa 1000, apa 2000 tahun? Kita lupa bukan? Tak apa. Yang pasti, perut kita telah menggelambir. Rambut merontok. Dan sebagian gigi menghitam. Menghitam seperti hati kita yang begitu lama dipanggang oleh matahari yang merendah. Matahari yang menghanguskan ingatan yang berlompatan. Continue reading “Penghikayat Ular”

Stasiun

Aris Kurniawan
http://www.lampungpost.com/

INGATAN tentang kehilangan, kepergian, sesuatu yang mencemaskan, menjadi lampau, dan dilupakan, acap menerjang perasaannya saban ia sampai di stasiun kereta api. Kau akan melihat perempuan itu di antara kerumun orang-orang yang menanti kereta dengan pandangan penuh kepedihan yang memupus harapan tentang kepulangan, rumah, dan kehangatan. Jajaran pohon cemara, hamparan kerikil, batangan rel yang memanjang sampai titik terjauh, bentangan sawah, gedung sekolah masa remajanya di ujung sana serupa instalasi kepiluan yang membuat cedera di rongga batinnya makin menganga. Continue reading “Stasiun”

Alibasyah

Gunawan Maryanto *
jurnalnasional.com

Jika saja tidak ada peristiwa pelemparan batu yang hampir mengenai kepalanya 19 tahun yang lalu, mungkin sekarang Alib adalah seorang seniman, bukan loper koran yang akan mengantarkan cerita ini kepadamu di suatu pagi di hari Minggu.

Alibasyah adalah anak tunggal Bude Niti, penjual barang-barang bekas di kampung kami. Alib, demikian kami memanggilnya, hanya tinggal berdua bersama ibunya. Ayahnya tinggal di tempat lain bersama isterinya yang lain. Aku memanggilnya Pakde Agus. Continue reading “Alibasyah”

Bahasa ยป