Kavellania Nona Pamela
Untuk ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata dipipiku
Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi Continue reading “Kehilangan”
Kavellania Nona Pamela
Untuk ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata dipipiku
Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi Continue reading “Kehilangan”
Wilson Nadeak
kompas.com
USIR burung itu!” terdengar suara agak keras dari kamar. WWW WIstriku dan aku sedang mendengar warta berita terakhir malam itu. Untuk kedua kalinya terdengar lagi seruan itu. Mungkin istriku menyangka itu bagian dari berita atau barangkali ia terkejut menyangka ada sesuatu yang terjadi karena ia menyaksikan televisi antara sebentar mengantuk sebentar terbangun. Ia memandang padaku. Continue reading “Maut”
Agus Noor
cetak.kompas.com
Aku suka matanya, seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. Kau akan melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. Tapi, sepasang mata itulah yang membuatku jatuh cinta. Continue reading “Serenade Kunang-kunang”
Kavellania Nona Pamela
“Kenapa belum tidur?” Tanya Kudo pada jendela chatting di YM.
Vella melirik jam pada dinding berwarna biru. Pukul setengah dua belas malam. Ia mendesah pelan, menahan semua rasa sakitnya. Ia tahu persis alasan mengapa belum juga pergi ke alam mimpi. Kali ini ia merasa hatinya seperti sedang disayat-sayat, degub jantungnya tak stabil menahan perihnya sayatan itu. Tapi tetap saja air matanya enggan untuk keluar padahal ia tidak sedang menahan tangis. Mungkin kemarau telah datang pada matanya atas kejadian ini. Continue reading “Ilusi”
Teguh Winarsho AS
kr.co.id
“AKU TAKUT melihat perang, darah dan kematian,” katanya pada suatu hari saat jalan raya menjelma hujan batu dan kobaran api. Langit menjadi lebih merah. Udara pengap meruap anyir darah. Ia lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Mencari tempat untuk bersembunyi. Tapi para serdadu itu terus memburu sembari menggenggam senapan dan pentungan kayu. Melempar gas air mata dan juga batu. Mata mereka nyalang, berkilat, seperti menyimpan belati. Membuat ia ketakutan setengah mati seperti dikejar-kejar sekelompok mummi. Continue reading “Negeri Para Pemburu”