Kartu Pos dari Surga

Agus Noor
cetak.kompas.com

Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti, Beningnya langsung meloncat menghambur. “Hati-hati!” teriak sopir. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Seperti capung ia melintas halaman. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Pasti kartu pos dari Mama telah tiba. Di kelas, tadi, ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun. Continue reading “Kartu Pos dari Surga”

Saputangan Buat Bapak

Weni Suryandari
http://kompas.co.id/

?Bu..untuk apa Ibu menyulam saputangan itu? Sudah malam, Bu!? aku mengingatkan Ibu sambil menutup novel yang kubaca ini sebentar.

Ibu tak menyahut. Tangannya khusyuk meneruskan sulaman berinisial nama Bapak pada sebuah saputangan warna biru. Itu adalah saputangan baru. Semua saputangan Bapak ada 7 lembar. Ternyata ada satu yang hilang entah dimana. Tak kutemukan. Mungkin tertiup angin saat baru kering di tali jemuran belakang sana. Aku ingat, beberapa hari yang lalu memang angin bertiup sangat kencang. Beberapa celana dalam sempat berjatuhan ke tanah. Continue reading “Saputangan Buat Bapak”

Mawar di Tiang Gantungan

Agus Noor
cetak.kompas.com

Kuceritakan apa yang kulihat. Tapi kalian mengatakan aku dusta, karena aku buta. Aku memang tak punya mata. Namun berapa kali mesti kukatakan pada kalian, betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu, daun-daunnya yang kemerahan, butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi tampak megah bekilauan setiap kali ia ditumpahkan. Bisa kulihat hamparan rumput yang biru bagai beludru, gugusan awan merah muda, bayang-bayang yang putih dan memanjang, juga angin yang pucat kelabu. Continue reading “Mawar di Tiang Gantungan”

Untuk Emakku

Weni Suryandari
http://www.kompas.com/

Surti menatap nanar setiap kendaraan yang lewat. Sesekali ia melambaikan tangannya pada setiap sopir, namun malam itu tak satupun sopir kendaraan berhenti. Ia sudah lelah dan mengantuk. Uang di sakunya hanya tinggal beberapa puluh ribu lagi, berarti ia harus mencari uang lagi untuk melunasi hutang biaya rumah sakit perawatan emaknya yang meninggal 1 bulan yang lalu dan harus ia tanggung sendirian sebagai anak satu-satunya yang tersisa dari dua bersaudara. Continue reading “Untuk Emakku”

Bahasa ยป