IBU MENINGGAL DI TANAH SUCI

Humam S Chudori
http://www.republika.co.id/

Antara percaya dan tidak saya membaca suratkabar yang memuat nama-nama calon jamaah haji yang wafat di tanah suci. Bukan lantaran nama ibu saya ada di sana. Melainkan karena berita itu menyebutkan ibu meninggal akibat sakit parut-paru. Sebagai salah seorang anaknya, saya tahu persis ibu tidak pernah mengidap penyakit paru-paru.

Namun, setelah Mardiana — adik saya yang tinggal di Pemalang — mengatakan hal yang sama, saya baru percaya. Continue reading “IBU MENINGGAL DI TANAH SUCI”

Sebuah Makam Untukku

Rakhmat Giryadi

Ketika menjejakkan kaki di jalan beraspal ini, aku membayangkan ibu yang wajahnya mulai dirambati garis-garis ketuaan yang tegas. Seorang ibu yang barangkali hanya duduk termenung sambil menunggu waktu pagi berubah malam. Seorang ibu yang kesepian. Seorang ibu yang tidak tahu dimana alamat anaknya yang puluhan tahun lalu pergi kemudian tak segera kembali. Continue reading “Sebuah Makam Untukku”

Perempuan Penanti Jibril

Syarif Hidayatullah
http://www.lampungpost.com/

Kaukah itu yang datang di malam hari atau itu hanya angin belaka? Entahlah, yang jelas perempuan itu selalu menanti Jibril lantaran tahajud terus mengalir di tubuhnya dan malam selalu membisikinya tentang arti kehidupan.

Sejenak ia renungi angin gurun, mencoba menaksir apakah ada kehidupan yang lebih indah tanpa ada cobaan? Siluet api bergerak, membenturkannya kembali untuk mengingat Jibril, adakah kau yang datang malam hari? Continue reading “Perempuan Penanti Jibril”

Gadis Penjaja Kata-kata

Dian Hartati
http://sudutbumi.wordpress.com/

Gadis itu tetap saja menjajakan kata-kata di gigir dingin. Masih ada lelah yang menggunung di dada segarnya. Matanya nyaris tak pernah tidur sepanjang malam, otaknya mereka-reka setiap kata yang akan diucapkan. Entah sudah berapa ribu malam ia lakoni pekerjaan itu, pekerjaan yang hanya menghasilkan beberapa ratus uang untuk makannya di siang hari. Siang hari tanpa kata. Continue reading “Gadis Penjaja Kata-kata”

PEMECAH BATU

Kusprihyanto Namma
http://www.republika.co.id/

Namanya Sidin. Tubuh pendek kekar. Kulit hitam terbakar. Rambut merah kusam. Jarang bicara. Apalagi tersenyum. Kerjanya buruh-memburuh. Bukan buruh tani. Tapi buruh pemecah batu.

Ia bekerja pada seorang juragan yang amat ia patuhi perintahnya. Ketika seorang kerabat juragan memenangkan tender pembongkaran gedung persidangan membutuhkan tenaga bongkar profesional, Sidin langsung diusulkan. Sidin tak bisa menolak. Continue reading “PEMECAH BATU”

Bahasa ยป