K o m a

S. Jai

AKHIRNYA zombie hipertensi itu benar-benar memperdayainya. Bertahun tahun lelaki itu bergelut sebelum tekuk lutut, toh penyakit yang bersarang di tubuhnya itu gila kuasa.

Dia takluk tanpa ampun. Dia dijatuhkan di muka umum, tanpa peduli lelaki bernama Kesturi itu orang baik, harum. Kesturi roboh tanpa ragam belas kasih atas nama keluarga, cinta, kemiskinan, anak-anak, apalagi utang-piutang dan seabrek. Segalanya menghilang. Continue reading “K o m a”

Rumah Duka

Ratih Kumala
cetak.kompas.com

Hal pertama yang muncul di kepala saat laki-lakiku menamatkan sisa nyawanya adalah; mungkin perempuan itulah yang lebih kehilangan dibanding aku, istri sahnya. Ketika itu jarum jam menggenapkan pukul tiga pagi. Anak perempuanku menangis berteriak memanggil-manggil nama papahnya, gema suaranya menyayat ke sudut-sudut koridor rumah sakit. Aku menangis tertahan. Sedang anak laki-lakiku menjadi bisu dan dingin. Continue reading “Rumah Duka”

Senapan

AS. Sumbawi

Sejujurnya, barangkali kita akan membawa lari ketakukan kita saat mengetahui seseorang berdiri di pinggir jalan dengan membawa senapan yang siap mengambil nyawa manusia. Apalagi dandanan seorang itu begitu menyeramkan. Bermata tajam elang yang memburu mangsa dan bertubuh besar seperti raksasa. Continue reading “Senapan”

S e n g a u

S. Jai

KESEGARAN pagi ini nresep perasaanku. Lebih hebat dari tumpukan gunung dan lembaran langit. Dua makhluk ciptaan Tuhan paling angkuh di mataku, di atas ubun-ubunku, tapi begitu mungil di dasar hati dan pikiranku. Segala benda terkukuh di semesta atas kemauanku sendiri bisa berada dalam genggaman tanganku, kubuat mainan di telapakku dalam waktu singkat yang memadat. Sekejab. Continue reading “S e n g a u”

Bahasa ยป