Wajah sebagai Topeng

Damhuri Muhammad *
Kompas, 15 Maret 2009

SEBERAPA jernih raut wajah mencerminkan kejatidirian yang paling asali? Lelaku, sifat dan tabiat barangkali memang dapat tergambar dari garis-garis wajah.

Dalam realitas yang menyehari, pertanda amarah biasa digambarkan oleh rona muka merah-padam, begitu pun keramahan, tertandai dengan raut wajah yang bersih dan berseri-seri. Continue reading “Wajah sebagai Topeng”

Pasar sebagai Rumah Penyair

Damhuri Muhammad*
Padang Ekspres, 01 Mar 2009

SEPINTAS lalu mungkin sukar memetakan hubungan antara puisi dan pasar. Sebab, pasar yang dimaksud di sini tidak dalam artian tempat puisi bisa diperjualbelikan—seperti toko buku, peristiwa-peristiwa pameran, bazar-bazar dan sejenisnya—melainkan pasar yang sesungguhnya, tempat para pedagang meneriakkan nama dan harga barang dagangan masing-masing, berikut dengan segala bujuk-rayu dan taktik-taktik jitu, agar lekas dihampiri pembeli. Continue reading “Pasar sebagai Rumah Penyair”

Sastra yang Mendustai Pembaca

Damhuri Muhammad*
Kompas, 4 April 2009

SEORANG kawan, sebutlah Fulan, pernah datang memenuhi panggilan sebuah perusahaan penerbitan buku berkelas di Jakarta. Konon, ia memperoleh tawaran menjadi penyunting naskah sastra terjemahan, khususnya dari roman-roman berbahasa Arab.

Dalam perjalanan, kawan itu tiba-tiba khawatir bakal gagal sebab tak ada yang bisa diandalkannya, selain sedikit kemahiran menulis fiksi dan sedikit kemampuan membaca teks-teks berbahasa Arab. Continue reading “Sastra yang Mendustai Pembaca”