Tag Archives: Damhuri Muhammad

Wajah sebagai Topeng

Damhuri Muhammad *
Kompas, 15 Maret 2009

SEBERAPA jernih raut wajah mencerminkan kejatidirian yang paling asali? Lelaku, sifat dan tabiat barangkali memang dapat tergambar dari garis-garis wajah.

Dalam realitas yang menyehari, pertanda amarah biasa digambarkan oleh rona muka merah-padam, begitu pun keramahan, tertandai dengan raut wajah yang bersih dan berseri-seri.

Pasar sebagai Rumah Penyair

Damhuri Muhammad*
Padang Ekspres, 01 Mar 2009

SEPINTAS lalu mungkin sukar memetakan hubungan antara puisi dan pasar. Sebab, pasar yang dimaksud di sini tidak dalam artian tempat puisi bisa diperjualbelikan—seperti toko buku, peristiwa-peristiwa pameran, bazar-bazar dan sejenisnya—melainkan pasar yang sesungguhnya, tempat para pedagang meneriakkan nama dan harga barang dagangan masing-masing, berikut dengan segala bujuk-rayu dan taktik-taktik jitu, agar lekas dihampiri pembeli.

Sastra Dalam Kepungan Warna Lokal

Damhuri Muhammad
Kompas, 19 Feb 2012

SEORANG pengamat sastra menuding warna lokal sebagai perhatian utama prosa yang muncul beberapa tahun belakangan ini, tak lebih dari sekadar kerja ornamentasi dengan memancangkan diktum dan peribahasa khas etnik tertentu dalam teks, hingga sebuah prosa memerlukan sederetan catatan kaki guna menjelaskan maksudnya.

Sastra yang Mendustai Pembaca

Damhuri Muhammad*
Kompas, 4 April 2009

SEORANG kawan, sebutlah Fulan, pernah datang memenuhi panggilan sebuah perusahaan penerbitan buku berkelas di Jakarta. Konon, ia memperoleh tawaran menjadi penyunting naskah sastra terjemahan, khususnya dari roman-roman berbahasa Arab.

Dalam perjalanan, kawan itu tiba-tiba khawatir bakal gagal sebab tak ada yang bisa diandalkannya, selain sedikit kemahiran menulis fiksi dan sedikit kemampuan membaca teks-teks berbahasa Arab.

Ikhtiar Menyelamatkan Puisi

Damhuri Muhammad*
Pikiran Rakyat, 17 Mei 2009

SENI paling unggul adalah seni yang mampu membangkitkan hasrat-berkehendak setelah sekian lama tersumbat. Begitu ketegasan penyair masyhur kelahiran Pundjab, India, Muhammad Iqbal, sebagaimana dikutip S.A. Vahid dalam Iqbal, His Art & Thought (1916). Oleh karena itu, the dogma of art for the sake of art is a clever invention of decadence to cheat us out of life and power (dogma seni untuk seni adalah sebuah rekayasa cerdas dari kebobrokan yang mengecoh agar kita semakin terasing dari realitas kehidupan dan kekuatan) lanjut Iqbal lagi.