PEMBELAJARAN SASTRA (6)

Djoko Saryono

Apakah “permainan atau pertunjukan orkestra” pembelajaran sastra Indonesia berparadigma literasi dan tradisi baca-tulis berhasil dengan baik – dalam arti mencapai visi, misi-utama, dan standar isi pembelajaran sastra Indonesia – sudah barang tentu perlu pengukuran ketercapaian visi, misi-utama, dan standar isi pembelajaran sastra Indonesia. Secara konseptual-teoretis, pengukuran ketercapaian visi, misi-utama, dan standar isi pembelajaran sastra Indonesia perlu dilakukan secara komprehensif dan holistis, agar keseluruhan visi, misi-utama, dan standar isi pembelajaran sastra Indonesia terukur. Continue reading “PEMBELAJARAN SASTRA (6)”

PEMBELAJARAN SASTRA (5)

Djoko Saryono

Berpanduan visi, misi-utama, dan standar isi pada satu sisi dan pada sisi lain bahan pembelajaran sastra Indonesia yang sudah dipilih sedemikian rupa harus dilaksanakan proses pembelajaran sastra Indonesia yang efektif. Harus dapat dimainkan orkestra”, pinjam istilah Bobbie DePorter, pembelajaran sastra Indonesia yang indah yang mampu “meng- imajinasi, mengilhami, dan menggerakkan-mengubah diri subjek didik”. Untuk mewujudkan orkestra pembelajaran yang efektif itu, perlu ditetapkan sekaligus diterapkan model pembelajaran imajinatif, inspiratif, dan transformatif. Continue reading “PEMBELAJARAN SASTRA (5)”

PEMBELAJARAN SASTRA (4)

Djoko Saryono

Sesudah keberadaan dan tempat pembelajaran sastra Indonesia berparadigma literasi, tradisi baca-tulis, dan berpikir kritis-kreatif tersebut jelas dan mantap, berikutnya perlu diadakan dan dipilih bahan pembelajaran sastra Indonesia yang cocok, tepat, dan lengkap. Pengadaan dan pemilihan bahan pembelajaran ini sangat penting, karena bahan pembelajaran dapat menjadi perangsang, pemberi ilham, penggerak-pengubah, bahkan ruang imajinatif bagi diri subjek didik untuk membangun, mengembangkan, dan atau memperoleh imajinasi, inspirasi, dan transformasi diri. Continue reading “PEMBELAJARAN SASTRA (4)”

PEMBELAJARAN SASTRA (3)

Djoko Saryono

Dalam rekonstruksi kurikulum sekaligus sistem pembelajaran sastra Indonesia tersebut, pertama-tama keberadaan dan tempat mata pelajaran sekaligus pembelajaran sastra Indonesia harus jelas dan mantap dalam struktur kurikulum dan organisasi mata pelajaran. Yang dimaksud jelas dan mantap keberadaan dan tempat di sini tidak berarti harus “dimunculkan atau diadakan” mata pelajaran dan pembelajaran sastra Indonesia secara tersendiri dan mandiri, karena jumlah mata pelajaran di lembaga pendidikan formal Indonesia sudah banyak dan alokasi waktu kurikuler pun sangat banyak dibandingkan dengan negara lain. Continue reading “PEMBELAJARAN SASTRA (3)”

PEMBELAJARAN SASTRA (2)

Djoko Saryono

Yang dimaksud pembelajaran sastra Indonesia berlandasan literasi, tradisi baca-tulis, dan kemampuan berpikir kritis-kreatif di sini adalah pembelajaran sastra Indonesia yang “berjiwa, bernafas, berwawasan, berbingkai, dan berpanduan” seluruh matra [dimensi] makna literasi, tradisi baca-tulis, dan kemampuan berpikir kritis-kreatif. Lebih jauh, juga pembelajaran sastra yang “terarah, tertuju dan terpusat” Continue reading “PEMBELAJARAN SASTRA (2)”

Bahasa »