CITRA PEREMPUAN DALAM SASTRA (10)

: Kelonggaran Moralitas Sosial dan Kebebasan Perempuan

Djoko Saryono *

Di samping menimbulkan kekerasan terhadap perempuan, modernisme dan pembangunanisme juga memunculkan kelonggaran moralitas sosial. Modernisme dan pembangunanisme memang telah membuat perempuan bebas dari (freedom from) belenggu dan kungkungan tradisi yang sangat patriarkis, tetapi juga menjadikan Continue reading “CITRA PEREMPUAN DALAM SASTRA (10)”

CITRA PEREMPUAN DALAM SASTRA (8)

: Relasi Gender, Kebudayaan Patriarkis, dan Hegemoni Maskulinitas

Djoko Saryono

Salah satu faktor penting yang menentukan kemenerimaan, kegagalan, dan keberhasilan perempuan dalam menunaikan atau melaksanakan peran gender perempuan adalah relasi gender. Relasi gender, sebagaimana diketahui, berkaitan dengan hal-ihwal hubungan perempuan dan laki-laki sebagai kelompok sosial. Relasi gender ini bisa timpang dan tidak adil dan bisa pula imbang dan adil. Continue reading “CITRA PEREMPUAN DALAM SASTRA (8)”

CITRA PEREMPUAN DALAM SASTRA (7)

: Peran Gender, Ruang Domestik, dan Ruang Publik

Djoko Saryono

Salah satu konsekuensi logis yang penting dari integrasi kultural terhadap tradisi adalah penerimaan peran-peran gender perempuan yang sudah ditentukan secara turun-temurun oleh tradisi, sedangkan salah satu konsekuensi logis yang pen­ting dari resistensi kultural terhadap tradisi adalah penolakan peran-peran gender perempuan yang sudah ditetapkan oleh tradisi. Continue reading “CITRA PEREMPUAN DALAM SASTRA (7)”

CITRA PEREMPUAN DALAM FIKSI (6)

: Keterpelajaran, Ketradisionalan, dan Kemodernan Perempuan

Djoko Saryono

Keterpelajaran dan keterdidikan perempuan-perempuan golongan menengah dan menengah-atas tersebut membuat mereka tampak memiliki rasionalitas, kesadaran dan daya hidup mandiri, dan sikap kritis terhadap keadaan-kenyataan sekeliling mereka. Dengan modal tersebut, mereka tidak selalu menerima, apalagi mengintegrasikan diri ke dalam keadaan-kenyataan tradisi budaya sekeliling mereka. Continue reading “CITRA PEREMPUAN DALAM FIKSI (6)”

Bahasa »