CITRA PEREMPUAN DALAM FIKSI (5)

: Keterpelajaran, Ketradisionalan, dan Kemodernan Perempuan

Djoko Saryono

Di dalam teks-teks novel Indonesia yang diteliti tampak bahwa keterpelajaran dan keterdidikan merupakan salah satu indikator sangat penting dari golongan-golongan sosial perempuan di samping kemampuan ekonomi dan ke¬ningratan atau kebangsawanan. Bahkan bisa dikatakan di sini bahwa keterpelajaran dipandang oleh para novelis jauh lebih penting daripada kemampuan ekonomi dan keningratan/kebangsawanan. Dikatakan demikian karena di dalam novel-novel Indonesia digambarkan bahwa keterpelajaran – yang sekaligus berarti berpendi¬dik¬an – menjadi semacam pendorong utama atau “lokomotif” mobilitas sosial, ekonomis, dan spasial para perempuan Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa keterpelajaran atau keterdidikan menjadi indikator terpenting asal-usul sosial perempuan Indonesia yang dicitrakan di dalam novel-novel Indonesia.

Dipancarkan dan ditampilkan di dalam teks novel-novel Indonesia, para perempuan golongan bawah adalah para perempuan yang rata-rata kurang terpelajar dan terdidik, bahkan tidak terpelajar dan terdidik. Dengan kata lain, rendahnya keterpelajaran dan keterdidikan membuat para perempuan Indonesia masuk ke dalam golongan bawah. Maria Magdalena Pariyem di dalam teks novel Pengakuan Pariyem menjadi babu karena kurang berpendidikan, yang sekaligus berarti kurang terpelajar. Ditampilkan di dalam teks, Pariyem hanya sempat menikmati pendidikan SD Wonosari Gunung Kidul. Demikian juga Srintil di dalam teks novel Ronggeng Dukuh Paruk menerima dan menjalani peran ronggeng — yang berkonotasi cabul dan permisif atas pelanggaran etik dan moralitas — karena tidak berpendidikan, yang sekaligus berarti tidak terpelajar. Di dalam sepanjang trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala tidak ada wacana yang mengisah¬beritakan Strintil pernah menempuh pendidikan (formal-modern) apapun dan sedikitpun kecuali “pendidikan keronggengan” dari dukun ronggeng, yaitu suami-istri Kartareja.

Selanjutnya, di dalam teks novel Tirai Menurun, Ke¬dasih dan Sumirat menjadi anak wayang karena tidak sempat menikmati dan mengenyam pendidikan, yang sekaligus berarti kurang terpelajar. Di dalam teks, dikisahkan bahwa Kedasih dan Sumirat semenjak remaja awal (atau ABG) sudah terlibat dalam rombongan wayang orang sehingga mereka tidak sempat mengikuti pendidikan formal-modern.

Kurang atau tidak terpelajarnya dan terdidiknya para perempuan golongan bawah tersebut membuat mereka kurang (bahkan tidak) memiliki rasionalitas, kesadaran dan daya hidup mandiri, dan sikap kritis terhadap segala sesuatu. Mereka justru cenderung menerima dan mengintegrasikan diri kepada apa yang sudah ada. Dengan kata lain, mereka menerima tradisi, bahkan mengintegrasikan diri ke dalam tradisi budaya yang sudah ada, tanpa dapat atau sempat mempertanyakan, apalagi memperhitungkan, apakah tradisi budaya itu merugikan diri mereka atau tidak.

Mereka menerima tradisi budaya sebagaimana adanya dengan disertai sikap pasrah yang sangat mengagumkan. Begitulah, maka Pariyem, Srintil, Kedasih, dan Sumirat menerima, bahkan mengintegrasikan diri ke dalam tradisi budaya Jawa yang selama ini menghi¬dupi mereka dengan disertai kepasrahan-kerelaan yang mengagumkan, tanpa sedikit pun mempertanyakan dan memperhitungkan apakah tradisi budaya Jawa itu merugikan dirinya atau tidak. Dengan demikian, mereka memilih dan menja¬lani hidup dalam ketradisionalan — alam budaya ketradisionalan. Mereka berorientasi pada ketradisionalan.

Dengan meminjam istilah Peursen, bahkan dapat dikatakan bahwa alam budaya ketradi-sionalan yang dijadikan orientasi tersebut termasuk budaya mitis dan peralihan budaya mitis ke budaya ontologis. Jadi, rendahnya keterpelajaran dan keterdidikan para perempuan Indonesia golongan bawah mendorong/membuat mereka cenderung ke arah ketradisionalan. Di sini terlihat rendahnya keterpelajaran memiliki kesejajaran dan afinitas dengan ketradisionalan.

Sementara itu, berbeda dengan para perempuan golongan bawah, para perempuan golongan menengah dan menengah-atas adalah para perempuan yang rata-rata terpelajar dan terdidik. Bahkan bisa dikatakan bahwa keterpelajaran dan keterdidikan mereka relatif tinggi ukuran zaman masing-masing. Dengan kata lain, demikian dipancarkan dan ditampilkan di dalam teks-teks novel yang diteliti, (relatif tingginya) keterpelajaran dan keterdidikan membuat mereka mampu masuk ke dalam golongan menengah dan menengah-atas.

Demikianlah, Sitti Nurbaya, Sumartini (Tini), Tuti, Fatimah, Larasati (Atik), Bu Antana, Marineti, dan Ny Talis — sebagai contoh — adalah perempuan-perempuan Indonesia yang terpelajar dan terdidik pada masanya masing-masing, yang keterpelajar¬an dan keterdidikannya ini membuat mereka menjadi “terpan¬dang”. Di dalam teks novel Sitti Nurbaya, sebagai anak saudagar kaya raya (Baginda Sulaiman), Sitti Nurbaya bisa menge¬nyam pendidikan relatif tinggi pada sama sebelum perang, yang hal ini berarti keterpelajaran. Di dalam teks novel Belenggu, sebagai suami dokter Sukartono (Tono), Sumartini menik¬mati pendidikan relatif tinggi pada masanya sehingga dia memiliki kecerdasan. Di dalam teks novel Layar Terkembang, Tuti adalah figur perempuan terpel¬ajar dan terdidik yang tampak sekali berbeda dengan perempuan-perempuan lain pada zamannya. Di dalam teks novel Jalan Tak Ada Ujung, Fatimah – istri Guru Isa – tergolong beruntung bisa mengenyam pendidikan yang memberinya citra terpelajar.

Kemudian di dalam teks novel Burung-burung Manyar, Atik dan Bu Antana menjadi perempuan terpelajar karena sempat mengenyam pendi¬dikan tinggi: Bu Antana mencapai derajat sarjana pertanian, bahkan Atik mencapai derajat doktor biologi. Selanjutnya, di dalam teks novel Burung-burung Rantau, Marineti mencapai derajat sarjana antropologi, yang hal ini memberikan kepadanya citra terpelajar. Adapun di dalam teks novel Ny Talis, Ny Talis dikisahberi¬takan sebagai perempuan yang cerdas karena pendidik annya – di samping cantik dan riang. Contoh-contoh ini memperlihatkan bahwa perempuan-perempuan golongan menengah dan menengah-atas memiliki akses besar untuk memperoleh keterpelajaran dan keterdidikan.

Bersambung…

One Reply to “CITRA PEREMPUAN DALAM FIKSI (5)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *