Fragmen-Fragmen “Agama Bumi”

Dwi Pranoto *

Penderitaan agama, pada saat yang bersamaan, adalah ekspresi pendertiaan nyata dan gugatan terhadap penderitaan nyata.  Agama adalah erangan dari makhluk yang tertindas, jantung dari dunia yang tak berjantung,  dan jiwa dari kondisi-kondisi yang tak berjiwa. Agama adalah candu masyarakat.
– Karl Marx, 1844 ; Introduction to Critique of Hegel’s Philosophy of Right. Continue reading “Fragmen-Fragmen “Agama Bumi””

Menimbang Nurel yang Menimbang Sutardji Calzoum Bachri

Dwi Pranoto *

Pertama-tama, tentu, tumbuh campuran perasaan gentar dan antusias saat berhadapan dengan Edisi Revolusi dalam Kritik Sastra; Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia (MMKI); Buku Pertama: Esai-esai Pelopor Pemberontakan Sejarah Kesusastraan Indonesia, karya Nurel Javissyarqi. Bagaimana tak tumbuh adukan perasaan gentar dan antusias, MMKI punya ketebalan xii + 570 halaman. Continue reading “Menimbang Nurel yang Menimbang Sutardji Calzoum Bachri”

Kritikus, Tekhnologi Produksi, Khalayak

Dwi Pranoto *

Boleh jadi kritik memberi pemahaman atas karya seni. Tapi yang tak boleh dilupakan, kritik selalu mengandaikan pandangan ideal tertentu bagaimana seharusnya karya seni diproduksi. Oleh karenanya kritikus memiliki keterlibatan mendalam dalam proses produksi seni. Dalam hal ini kritikus tak belaka menjadi juru terang, tapi juga mengarahkan cahayanya pada ruas jalan terpilih yang seharusnya ditempuh oleh karya seni sebagai produk artistik yang beroperasi terhadap ideologi. Continue reading “Kritikus, Tekhnologi Produksi, Khalayak”

Sosialisme dalam Mukadimah Lekra dan Manifes Kebudayaan

Dwi Pranoto

“Perlu diingat, Manifes Kebudayaan disusun di tahun 1963 – setelah kami melihat bahwa sosialisme dapat diperjuangkan tanpa doktrin “realisme sosialis”
(Goenawan Mohamad; wawancara dengan A. Kurnia dalam http://mediacare.blogspot.com)

Sepanjang sejarah modern Indonesia, setelah Polemik Kebudayaan tahun 1930-an, perselisihan seni paling sengit adalah pertikaian antara kubu Lekra dengan, katakanlah, kubu humanisme universil  di paruh awal 1960-an. Perdebatan yang berakhir dengan brutal pada tataran politik itu melahirkan Manifes Kebudayaan yang dinyatakan oleh kelompok humanisme universil yang sering dikaitkan dengan prinsip seni l’art pour art, meski tidak demikian adanya. Continue reading “Sosialisme dalam Mukadimah Lekra dan Manifes Kebudayaan”

Bahasa »