Diskursus Luka, Identifikasi Subjek, dan Hasrat Lacan dalam Puisi “Luka” Karya Dwi Pranoto

Moh. Fathoni

Lacan dalam konsepsi psikoanalisanya menggunakan dua strategi: fenomenologi dan struktural. Dengan fenomenologi, ia memilih subjek yang mempunyai hasrat dan menempatkannya ketidaksadaran agar menjadikannya sebagai “subjek yang bebas”. Kedua, struktural digunakan sebagai alat untuk membahas pengukuhan diri subjek, yakni sebagai dalam identifikasi diri [subjek]. Continue reading “Diskursus Luka, Identifikasi Subjek, dan Hasrat Lacan dalam Puisi “Luka” Karya Dwi Pranoto”

Membaca Thendra Berkaca pada Chairil

Dwi Pranoto

Kutipan dua baris pernyataan Chairil Anwar, Aku suka pada mereka yang berani hidup / Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam yang termuat di lembar halaman setelah halaman penerbit – ini berarti sebelum kita berhadapan langsung dengan puisi-puisi dalam kumpulan puisi Manusia Utama (MU) – seolah memberi tahu puisi-puisi seperti apa yang bakal kita baca setelahnya. Benarlah, walaupun tak sepenuhnya, setidaknya pilihan diksi, irama, dan suasana sejumlah puisi dalam MU mengingatkan kita pada beberapa puisi si binatang jalang itu. Continue reading “Membaca Thendra Berkaca pada Chairil”

MENIMPALI TULISAN BENI SETIA DAN DWI PRANOTO

Skandal TUK Manipulasi Sejarah Sastra Jatim
Achmad Farid Tuasikal
cetak.kompas.com

“Bila politik menyesaki kehidupan bangsa dan kotoran, maka sastralah yang mampu membersihkannya.” (John F Kennedy).

Tepatnya, apabila politik itu bengkok, sastralah yang meluruskannya. Penyair dan karyanya (sastra) adalah bagian dari sejarah pergerakan bangsanya. Mereka memiliki peran penting dan strategis dalam upaya menjaga dan memompa semangat rakyat dalam melawan kejahatan, seperti penguasa zalim, penindas, korupsi, dan manipulasi. Continue reading “MENIMPALI TULISAN BENI SETIA DAN DWI PRANOTO”

Bahasa »