MEREKONSTRUKSI (? x – = +) DALAM KORUPSI

Nurel Javissyarqi
http://www.facebook.com/nurelj

Alhamdulillah diberi sempat meluruskan permasalahan ini, kepada kejiwaan bathin menggebu menunjukkan sikap seimbang di jalan lurus menentukan pilihan. Ruh yang Tuhan rahasiakan kecuali sedikit bisa dikenali, hanya sekulit luar kupasan bawang putih adanya materi, sebagai kehalusan budhi pekerti insan mengamati arti kelembutan.

Kali ini kudedah keberadaan realitas ketaksadaran, sebab realitas kesadaran tentu anda cukup mengolah bahan termiliki. Ini dimunculkan demi mawas bercermin, atas kesalahan tak terkira sanggup gagalkan pemahaman, lebih parah melahirkan tragedi. Karenanya izinkan menguliti buah pengantar jarak yang ditempuh pemahaman logis serta rasa untuk menggapai akarnya. Continue reading “MEREKONSTRUKSI (? x – = +) DALAM KORUPSI”

40 Hari Burung MERAK

Putu Wijaya
http://www.facebook.com/pages/Putu-Wijaya/43262432803

RENDRA
Pulang dari tahlilan 7 hari meninggalnya WS Rendra di Bengkel Teater, Citayam, pintu rumah saya terkunci. Saya terpaksa mengambil jalan samping. Di teras yang menghadap ke kebun saya tertegun. Pada salah satu kursi duduk sosok yang membuat darah saya tersirap.

?Mas??
Tak ada jawaban. Saya mencoba menenangkan perasaan. Malam sedang di puncaknya. Tapi ada dering jengkrik yang membuat saya tenang. Saya coba menerima kenyataan itu sebagai sesuatu yang wajar. Continue reading “40 Hari Burung MERAK”

Terowongan Maut Kohar Ibrahim

Dari Penerbit: Novel Sitoyen Saint-Jean: Antara Hidup Dan Mati ini berkisahkan seorang anak manusia, salah seorang putera kelahiran Jakarta 1942 yang mencintai tanah tumpah darahnya, bangsanya, kebudayaannya dan tentu saja Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Namun setelah keberangkatannya pada 27 September 1965 ke Tiongkok kemudian terjadi Tragedi Nasional 1965, anak tunggal pasangan Ibrahim & Maemunah yang memiliki cita-cita dan ragam impian ini terpaksa menjadi salah seorang yang oleh mantan Presiden R.I. Gus Dur sebagai “kaum kelayaban” di Mancanegara alias kaum eksilan. Continue reading “Terowongan Maut Kohar Ibrahim”

KADO PENGHAMPIRAN SASTRA YANG “MEMBUMI” *

Suryanto Sastroatmodjo
http://pustakapujangga.com/?p=638

Lebih kurang 15 warsa silam, Pamusuk Erneste (dalam buku “pengadilan puisi” penerbit Gunung Agung Jakarta, 1986), menggambarkan bagaimana jauhnya bila jagad sastra (inklusif kepenyairan didominasi sejumlah nama, yang ingin bertahan sebagai idola, dan bukan sebagai creator), hingga publik sastra kecewa. Ia menyebut tentang Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad dan WS. Rendra di tahun-tahun 70-an (setelah menikmati kemasyhuran hampir 25 tahun lebih, sementara kader-kadernya makin meredup masa itu), sehingga timbul sekelompok penyair muda yang merasa harus bertindak untuk mengembalikan dunia sastra di sudut penglihatan netral dan imbang, selaras dengan rising demans (tuntutan semakin meningkat). Continue reading “KADO PENGHAMPIRAN SASTRA YANG “MEMBUMI” *”

Bahasa »