Terowongan Maut Kohar Ibrahim

Dari Penerbit: Novel Sitoyen Saint-Jean: Antara Hidup Dan Mati ini berkisahkan seorang anak manusia, salah seorang putera kelahiran Jakarta 1942 yang mencintai tanah tumpah darahnya, bangsanya, kebudayaannya dan tentu saja Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Namun setelah keberangkatannya pada 27 September 1965 ke Tiongkok kemudian terjadi Tragedi Nasional 1965, anak tunggal pasangan Ibrahim & Maemunah yang memiliki cita-cita dan ragam impian ini terpaksa menjadi salah seorang yang oleh mantan Presiden R.I. Gus Dur sebagai “kaum kelayaban” di Mancanegara alias kaum eksilan.

Bagaimanakah jejak langkah dan warna-warni jalur jelujur kehidupan anak bangsa yang lahir dan dibesarkan serta kiprah dalam perjuangan hidup sampai usia 23 tahun tapi lantas harus terpaksa jadi pengelana buana selama lebih dari empat dasa warsa? Bagaimana dia menjaga cita dan cinta serta impiannya sejak masa bocah? Bagaimanakah dia menjawab pertanyaan dan memaknai Hidup dan Kehidupan bahkan Kematian?

Kiranya pembaca bisalah memahaminya dengan menyimak novel pendek ini? sebuah karya prosa yang tergolong bergaya realisme romantis malah biografis? dari awal sampai akhirnya.

Novel ini terdiri dari serangkum kisah dengan masing-masing judulnya sendiri dan sebagian besar bisa disajikan atau dibaca secara tersendiri seperti cerita pendek. Salah sebuah dari padanya berjudul? Terowongan? ; pernah dipasang di beberapa blog, seperti Abekreasi Multiply. Salah seorang pembaca yang mengapresiasinya tak lain adalah sastrawan Hudan Hidayat, yang atas seizinnya kami sertakan dalam buku ini.

Kepada Hudan Hidayat, atas kemurahan hatinya kami ucapkan banyak terima kasih. Sedangkan kepada pembaca yang berkenan kami persilakan. (Penerbit)
***

Hudan Hidayat : Terowongan Kehidupan

cerita pendek ini menyapa hampir-maut dengan lembut sekali? nyaris sebuah kepasrahan dari seseorang yang telah sabar mengalami derita panjang, derita yang nampaknya bukan sekedar dalam makna pikiran, tapi derita pikiran dan derita fisik dari sebuah perjalanan hidupnya yang panjang.

saya adalah anak sejarah yang masa-masa lalu itu seolah sejarah itu sendiri. sejarah pahit yang gelap. hingga saat ini pun masih gelap. tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.

ada pernah saya diberitahukan, bahwa karya sastra orang-orang lekra adalah tak lebih dari pamplet belaka. semua kata yang mengungkap peristiwa dan makna memuara ke satu arah: politik revolusi. sehingga cerita-cerita mereka, demikian sejarah itu memberitahukan, tak ada yang bermakna.

tapi waktu membaca pram, semua kesimpulan semacam itu pupus. apalagikah makna kalau kita berhadapan dengan cerita besar seperti bumi manusia itu misalnya.

lalu kini saya tertumbuk dengan sebuah cerita kecil hidup seseorang, yang dilambangkannya dengan terowongan. terowongannya, aduh, alangkah pas tanda ini untuk mengatakan hidup itu sendiri. hidup adalah terowongan panjang yang kita tak tahu ujungnya. sehingga berteriaklah orang seperti albert camus : absurd. dan karena absurd, aku memilih tak bertuhan saja.

tapi lihatlah cerita kohar ibrahim ini. tiap katanya adalah sapaan lembut kepada tuhannya. kata yang berlapis membentuk dan mencampur dari jenis kata yang sama, seolah menganya labirin, seolah memasuki dan terowongan kata itu sendiri.

seakan ia hendak berkata: sudah kulalui macam-macam terowongan fisik dan terowongan makna? seperti yang disebutkannya dengan mengutip beberapa cerita fiksi dari awal karangannya ini. lalu apa lagi yang harus kutakuti?

tentu saja takut bukanlah kata yang tepat. yang lebih tepat lagi asing. perasaan asing yang aneh seperti yang bolak-balik dikaitkannya dengan alat-alat medis agar ia selamat dari terowongan yang bernama operasi itu.

tapi dari cerita ini saya melihat sekali suatu ekspose dari manusia fakta dan manusia fiksi (yang lagi menuliskan ceritanya? seorang narator bernama aku) yang dengan terowongan itu seolah mengajak kita mengenang akan sepenggal kehidupan agar dari sepenggal kehidupan itu kita merenungkan apakah artinya dan apakah kesudahannya.

di ruang yang sangat kecil ini, perasaan itulah yang saya alami. mungkin kalau saya mengetik di ruang layar yang lebar komputer kelak beberapa denyar yang merasuki hati saya ini bisa saya elaborasi ke dalam detil-detil yang mungkin menjadi hak bagi peristiwa dan makna yang diletakkan, atau yang telah terjadi di sana.

saya kagum dengan cerita anda, bung kohar.
izinkan saya mengambilnya dan memasangkan ke blog saya. mungkin malam ini juga akan saya perluas untuk tulisan di milis-milis yang saya ikuti. bagi saya sebuah cerita adalah kebajikan hidup itu sendiri.

saya yang menggemari cerita ingin mengumpulkan sebanyaknya dan kalau bisa, menyuarakannya sebagai suara dari kehidupan itu sendiri. kehidupan yang penuh warna-warni dari manusia yang mengalaminya sendiri. (Hudan Hidayat)
***

Tentang Penulis: A. KOHAR IBRAHIM
Nama lengkap : Abdul Kohar Ibrahim
Nama pelukis (tandatangan karya lukis): Abe
Lahir: 16 Juni 1942, Jakarta, Indonesia
Menerima pendidikan Seni Rupa di Academie Royale des Beaux-Arts de Bruxelles, Brussel, Belgia.
Alamat: Belgia : Bruxelles, Belgique.
Indonesia: Batam ; Jakarta, Ciputat Banten, Indonesia.

Bibliographie:
(1) Media massa, antara lain: Le Soir, La Lanterne, La Dernire Heure, Le Pourquoi Pas, Le Jalon des Arts, Gazet Van Antwerpen, Het Laste Nieuws, De Autotoerist, Sontags Kurier, Cellerche Zeitung. Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Harian Sijori Pos, Harian Batam Pos, KB Antara dan media online : SwaraTV, DepokMetro.net, Cybersastra.net, Cimbuak.net, Sastra Indonesia.net, Art Culture Indonesia Blogspot dan lainnya lagi.
(2) Spectraal Kunstkijkboek VI, d. Spectraal, Gent 1984.
(3) 50 Artistes de Belgique, par Jacques Collard, critique d?art, d. Viva Press Bruxelles 1986.
(4) Art Information, d. Delpha, Paris 1986.
(5) Whos who in Europe, d. Database, Waterloo 1987.
(6) Whos who in International Art, international biographical Art dictionary, d. 1987-1996, Lausanne, Suisse.
(7) Dictionnaire des Artistes Plasticiens de Belgique de XIXe et XXe Sicles Editions Art in Belgium 2005.
(8) Artistes Peintre Abe alias A.Kohar Ibrahim dan Karya Lukisnya oleh Lisya Anggraini, Batam, Indonesia 2005.

Sebagai Penulis:
A. Kohar Ibrahim mulai banyak menulis prosa dan puisi serta esai atau kritik sastra dan seni sejak akhir tahun 50-an di beberapa media massa Ibukota, antara lain Bintang Timur, Bintang Minggu, Harian Rakyat, HR Minggu, Warta Bhakti dan Zaman Baru. Setelah Era Reformasi, berkas-berkas karya tulisnya ada yang disiarkan di media massa cetak dan online. Anatara lain : Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Harian Sijori Pos, Harian Batam Pos, Majalah Gema Mitra, Majalah Budaya Duabelas (Penerbit : Dewan Kesenian Kepri), Cybersastra.net, Depokmetro.com, Swara.tv, Bekasinews.com, Art-Culture Indonesia, Sastra Indonesia.net, Apresiasi Sastra, Multiply.
Dari tahun 1989-1999, selama sedasawarsa mengeditori terbitan yang tergolong pers alternatip, terutama sekali berupa terbitan Majalah Sastra & Seni KREASI; Majalah Budaya & Opini Pluralis ARENA dan Majalah Opini MIMBAR.
Berkas-berkas esai seni dan sosio-budaya lainnya berupa: (1) Catatan Dari Brussel: Dari Bumi Pijakan Kaum Eksil; (2) Sekitar Tempuling – Kupuisi Rida K Liamsi; (3) Sekitar Tembok Berlin: Lagu Manusia Dalam Perang Dingin Yang Panas; (4) Hidup Mati Penulis & Karyanya: Polemik Pramoedya-Lekra vs Manikebu; (5) Sekitar Aktivitas Kreativitas Tulis Menulis Di Luar Garis ; (6) Sekitar Prahara Budak Budaya; dan lainnya lagi.

Kumpulan tulisan individual maupun bersama yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku kucerpen, kupuisi dan kuesai, antara lain:

(1) Kumpulan cerpen: Korban, penerbit Stichting Budaya, Amsterdam, 1989.
(2) Kumpulan puisi: Berkas Berkas Sajak Bebas, penerbit Stichting Budaya, Amsterdam, Kreasi N 37 1998.
(3) Kumpulan esei bersama: Lekra Seni Politik PKI, penerbit Stichting Budaya, Amsterdam, Kreasi N 10 1992.
(4) Kumpulan sajak bersama: Puisi, penerbit Stichting Budaya Amsterdam, Kreasi N 11 1992.
(5) Kumpulan esei bersama: Kritik dan Esei, penerbit Stichting Budaya Amsterdam, Kreasi N 14 1993.
(6) Kumpulan cerpen bersama: Kesempatan Yang Kesekian, penerbit Stichting Budaya Amsterdam, Kreasi N 26 1996.
(7) Kumpulan sajak bersama: Yang Tertindas Yang Melawan Tirani I, penerbit Stichting Budaya Amsterdam, Kreasi N 28 1997.
(8) Kumpulan sajak bersama: Yang Tertindas Yang Melawan Tirani II, penerbit Stichting Budaya Amsterdam, Kreasi N 39 1998.
(9) Kumpulan sajak bersama: Di Negeri Orang, penerbit Yayasan Lontar Jakarta & YSBI Amsterdam, 2002.
(10) Buku Telaah Puisi: Sekitar Tempuling Rida K. Liamsi, penerbit Yayasan Sagang, Pekanbaru 2004.
(11) Kumpulan esai bersama: Identitas Budaya Kepri, terbitan Dewan Kesenian Kepri, Tanjungpinang 2005.
(12) Kumpulan Esai bersama: Identitas Budaya Kepri, penerbit Dewan Kesenian Kepri, 2005.
(13) Kumpulan tulisan bersama: Antologi Puisi-Cerpen-Curhat-Esai Tragedi Kemanusiaan 1965-2005, penerbit Sastra Pembebasan, 2005.
(14) Kumpulan Esai bersama Lisya Anggraini: Kepri Pulau Cinta Kasih, penerbit Yayasan Titik Cahaya Elka, Batam, Kepri, 2006.
(15) Novel: Sitoyen Saint-Jean – Antara Hidup Dan Mati, penerbit Yayasan Titik Cahaya Elka, Batam, Kepri, 2008.
(16) Kumpulan Esai: Sekitar Polemik Pramoedya-Lekra vs Manikebu, idem segera terbit.
(17) Kumpulan Puisi: Untukmu Kekasihku Hanya Hatiku, idem segera terbit.
(18) Kumpulan Cerpen bersama Lisya Anggraini: Intuisi Melati, idem segera terbit.

Sumber link fb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *