Tuti, Dharta, dan Hari Esok

Eka Budianta*
Kompas, 11 Feb 2007

INDONESIA dikaruniai jiwa-jiwa yang teguh dan pikiran brilian. Itulah kekayaan termahal bangsa ini yang tidak boleh dilupakan. Kepergian dua penyair “paruh waktu”, Tuti Gintini (45) dan AS Dharta (83), pada awal Februari 2007 dengan jelas mencatatkan hal ini. Mengapa terpaksa disebut “penyair paruh waktu”? Karena kepenyairan mereka menumpang pada predikat lain yang lebih mapan. Continue reading “Tuti, Dharta, dan Hari Esok”

Mencoba Memahami Kahlil Gibran

Judul Buku : Indonesia Memahami Kahlil Gibran
Tebal : 104 halaman
Penerbit : Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), Indonesian Heritage Trust.
Cetakan : Indonesia Heritage Trust, Jakarta,2011
Peresensi : Eka Budianta *
http://www.balipost.co.id/

TERBITNYA dan peluncuran buku “Indonesia Memahami Kahlil Gibran” diselenggarakan di Pura Pejeng, Wantilan, Gianyar dalam acara World Heritage Day, yang bertepatan dengan Peringatan Seribu Tahun Samuan Tiga. Continue reading “Mencoba Memahami Kahlil Gibran”

MEMETIK METAFOR MENULIS EKA BUDIANTA

Sutejo
Ponorogo Pos

Sungguh saya terbelalak dengan metafor menulis yang diungkapkan Eka Budianta! Tulisan itu seperti bom, cinta. Sebuah sisi lain pengalaman menulis yang menggetarkan. Bagaimana tidak? Bom dan cinta seperti dua hal yang jauh tetapi didekatkan dalam satu makna. Bom simbol teror yang membuat orang ngeri. Tetapi bom dalam konteks pandangan Eka Budianto tentu menyaran pada bagaimana tulisan mampu melemparkan teror mental. Continue reading “MEMETIK METAFOR MENULIS EKA BUDIANTA”