Kekasih sebagai Dia, Engkau, Aku

Emha Ainun Nadjib
__Republika/2001

Dalam wacana para Nabi dan Rasul Allah, pada masing-masing zaman, terdapat ‘perjalanan peradaban’ yang berkaitan dengan penyembahan kepada Sang Kuasa. Tentang bagaimana Allah SWT memposisikan diri-Nya.

Pada zaman Nabi Ibrahim AS, misalnya, Allah SWT ‘berposisi’ sebagai ‘pihak ketiga’ (Dia). Atau pada jaringan masyarakat tarikat tertentu dikenal dengan dzikir Huwa. Sedangkan, di zaman Nabi Musa As, Allah SWT ‘berposisi’ sebagai ‘pihak kedua’ (Engkau), atau Anta. Dan, pada perkembangan peradaban di zaman Nabi Isa AS, Allah SWT ‘berposisi’ sebagai ‘pihak pertama’ (Aku), atau Ana. Continue reading “Kekasih sebagai Dia, Engkau, Aku”

Tuhan Disaingi Manusia

Muhammad Ainun Nadjib
_buletin Maiyah Jatim, Mei 2012

Kegelapan sosial pada hakekatnya bersifat horisontal. Ada juga yang bertikai soal kegelapan spiritual, kegelapan teologis. Terlanjur bikin setting negara ber-Tuhan, tapi wacana tentang Tuhan dan ajarannya hanya dispekulasikan. Tuhan bahkan dikarang atau diciptakan sendiri. Continue reading “Tuhan Disaingi Manusia”

Puisi yang Sengaja Dibikin Gelap Mengenai Harimau

Emha Ainun Nadjib
http://sudisman.blogspot.com/

Puisi ini oleh penyairnya sengaja agak digelap-gelapkan, dengan alasan yang sangat gampang dipahami: yakni karena temanya adalah harimau, dan harimau itu di era sejarah kapan pun insya Allah selalu menakutkan.

Kalau kepergok harimau, manusia selalu bersegera lari dan melingkar-lingkar mencari keselamatan. Maka demikian pulalah puisi ini. Untunglah menurut para Suhu, lari ketika ada musuh adalah jurus kependekaran yang tertinggi. Continue reading “Puisi yang Sengaja Dibikin Gelap Mengenai Harimau”

Bahasa »