Emha Ainun Nadjib
__Republika/2001
Dalam wacana para Nabi dan Rasul Allah, pada masing-masing zaman, terdapat ‘perjalanan peradaban’ yang berkaitan dengan penyembahan kepada Sang Kuasa. Tentang bagaimana Allah SWT memposisikan diri-Nya.
Pada zaman Nabi Ibrahim AS, misalnya, Allah SWT ‘berposisi’ sebagai ‘pihak ketiga’ (Dia). Atau pada jaringan masyarakat tarikat tertentu dikenal dengan dzikir Huwa. Sedangkan, di zaman Nabi Musa As, Allah SWT ‘berposisi’ sebagai ‘pihak kedua’ (Engkau), atau Anta. Dan, pada perkembangan peradaban di zaman Nabi Isa AS, Allah SWT ‘berposisi’ sebagai ‘pihak pertama’ (Aku), atau Ana. Continue reading “Kekasih sebagai Dia, Engkau, Aku”
