Tuhan Disaingi Manusia

Muhammad Ainun Nadjib
_buletin Maiyah Jatim, Mei 2012

Kegelapan sosial pada hakekatnya bersifat horisontal. Ada juga yang bertikai soal kegelapan spiritual, kegelapan teologis. Terlanjur bikin setting negara ber-Tuhan, tapi wacana tentang Tuhan dan ajarannya hanya dispekulasikan. Tuhan bahkan dikarang atau diciptakan sendiri.

Tuhan harus ‘ngikut’ macam-macam pendapat manusia tentang diri-Nya. Tuhan sendiri tidak pernah ditanyai. Seakan-akan manusia menemukan Tuhan melalui riset akademis dan investigasi ilmiah. Seakan-akan manusia sanggup mengenali Tuhan, malaikat, sorga, neraka, konsep dosa dan pahala, setan, jin, malaikat dan lain sebagainya, melalui upaya prestatif manusia sendiri.

Di ujung seluruh kenyataan itu, benturan yang dialami manusia adalah soal ‘kebahagiaan yang sejati’. ‘Persyaratan’ untuk bahagia tidak secara mendasar dipenuhi. Tidak berlangsung pendidikan sejarah yang mendorong dan menolong manusia untuk menemukan dirinya dalam koordinat kenyataan hidup di mana ia terletak.
Manusia juga menjadi tidak memiliki peluang untuk memahami dan mengadaptasikan dirinya pada ‘syariat sosial’, sehingga ia temukan pula pola ‘manajemen’ dirinya secara baik.

Istilah ‘syariat sosial’ sengaja dipakai untuk memudahkan assosiasi pembedaan antara tata nilai horisontal dengan tata nilai vertikal, serta komprehensi dan interdependensi antara keduanya. Untuk mencapai kebahagiaan, umumnya orang mengandalkan tiga-ta: harta, tahta, dan wanita.

Masalahnya adalah ada perbedaan serius antara tolok ukur horisontal mengenai tiga hal itu dengan tolok ukur vertikal. Apa yang dalam syariat horisontal disebut menguntungkan, menurut tolok ukur vertikal merugikan. Melakukan shalat itu tidak produktif, wasting time dan ngoyoworo, menurut mata pandang horisontal, kecuali kalau shalat merupakan syarat agar tender kita menangkan.

Mendapatkan uang banyak dan memasukkannya ke kantong, menurut tolok ukur horisontal ada keuntungan, yang berakibat kegembiraan. Tapi mengeluarkan uang dari kantong tanpa disertai janji laba horisontal apa-apa, menurut syariat vertikal, adalah sebuah keberuntungan, kelegaan dan kegembiraan.

Itu sekedar contoh sederhana. Manusia tampaknya cenderung mempersaingkan dirinya dengan Tuhan dalam konsep, wacana, dan manifestasi tentang kebahagiaan. Dan Tuhan tampaknya cool-cool saja membiarkan diri-Nya disaingi.

Manusia menempuh, mengejar, merampas, segala sesuatu yang ia anggap sebagai ‘onderdil’ kebahagiaan, padahal Tuhan berkata sebaliknya. Kelak manusia terjebak dan frustrasi sendiri di masa tuanya, kemudian membungkuk-bungkuk minta ampun, dan Tuhan menyediakan lima sifat pengampun pula.

Hanya Abu Nawas yang sanggup ‘mengalahkan’ Tuhan soal harta dan kebahagiaan. Ia teriak-teriak bahwa ia lebih kaya dari Tuhan. Setelah ditangkap polisi ia berargumentasi: ‘Menurut Tuhan harta yang termahal adalah anak yang saleh. Dan saya punya 12 anak yang saleh salehah, sedangkan Tuhan tak punya satu pun’