Ziarah Budaya Fiksi Puasa-Lebaran

Rachmat H Cahyono
http://www2.kompas.com/

RITUAL tahunan Puasa-Lebaran memang mengandung banyak jejak dan makna, baik dari sudut pandang spiritual maupun sosiokultural. Mungkin karena itulah setiap tahun ada saja kita temukan penulis prosa tertarik menulis fiksi, umumnya cerpen, yang mengangkat tema Puasa-Lebaran-termasuk tema-tema mudik Lebaran yang sungguh merepotkan itu. Puasa-Lebaran atau peristiwa mudik yang diangkat bisa saja menjadi sekadar tempelan, latar cerita, atau menjadi bingkai utama yang mengikat cerita. Continue reading “Ziarah Budaya Fiksi Puasa-Lebaran”

Ziarah Budaya Itu Bernama Mudik

Nur Faizah*
Tempo, 1 Okto 2008

Fenomena mudik adalah budaya khas setiap tahun masyarakat muslim Indonesia dalam menyambut datangnya Idul Fitri, yang populer dengan sebutan Lebaran. Secara sosiologis, mudik merupakan ajang tamasya budaya dan dalam berbagai sisi memunculkan sirkulasi tata kehidupan. Dalam pelbagai bentuknya, migrasi besar-besaran yang ditimbulkan akibat mudik selalu melahirkan dilema dan problema sosial yang silang sengkarut. Kebiasaan rehat dari kesibukan keseharian bagi orang-orang kota dengan cara menikmati suasana kampung halaman amat membantu mereka mempersegar etos kerja. Continue reading “Ziarah Budaya Itu Bernama Mudik”

Blok-Blok Dalam Kepenyairan: Pengkhianatan Terhadap Humanisme

Zelfeni Wimra
padangekspres.co.id

Penyair Muda Versus Penyair Tua

Pada kisaran tahun 2005, sekumpulan penyair muda dari Jawa Barat dan Bali berembuk soal bagaimana menciptakan wadah berhimpun dan berdialektika dalam proses kreatif kepenyairan di Indonesia. Latar pemberangkatan mereka adalah kondisi ruang komunikasi dan kreasi penyair “muda” tidak memiliki ruang yang menggembirakan. Para penyair “tua” dipandang masih memerankan hegemoni, cenderung sentralistik dan memainkan standarisasi yang mengekang ruang ekspresi bagi yang muda. Continue reading “Blok-Blok Dalam Kepenyairan: Pengkhianatan Terhadap Humanisme”

Kebudayaan bukan Semata Kesenian

Soni Farid Maulana
http://pr.qiandra.net.id/

TUMBUH dan berkembangnya kebudayaan di Indonesia dewasa ini, tidak hanya berada di tangan seniman dan pemikir seni, tetapi juga berada di tangan para politisi dan pelaksana negara. Berkaitan dengan hal itu, salah besar kalau ada yang beranggapan bahwa urusan para politisi adalah dunia politik semata, yang sama sekali tidak bersentuhan dengan kebudayaan dalam arti yang seluas-luasnya. Continue reading “Kebudayaan bukan Semata Kesenian”

Bahasa »