Antara Sastra dan Kekuasaan

Ammilya Rostika Sari*
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

HARI-hari di tahun 1955 dihabiskan seseorang yang nantinya menjadi presiden Amerika Serikat dengan berdagang pupuk. Rupa-rupanya ia punya usaha yang cukup santai. “Saya tidak punya buruh dan juga tidak punya pelanggan,” katanya. Jadi, ia sering kali nongkrong saja di atas karung-karung pupuk itu sambil membaca buku. Continue reading “Antara Sastra dan Kekuasaan”

Bingkai: Sastra dan Cinta di Reruntuhan Kekuasaan

Jafar Fakhrurozi
http://www.lampungpost.com/

MENINGGALNYA mantan Presiden Suharto disambut beragam oleh masyarakat. Mereka yang berkabung, di koran, misalnya, selain foto-foto yang memperlihatkan tangis keluarga, kerabat, dan kroni-kroninya. Juga menampilkan gambar wajah-wajah dukacita dari sebagian rakyat kecil yang kadung mencintai Suharto. Namun dalam beberapa hari setelah masa kabung itu, demonstrasi massa mulai digelar di mana-mana, mereka menolak berkabung dan terus menuntut proses hukum atas kejahatan orang paling besar di Indonesia itu. Continue reading “Bingkai: Sastra dan Cinta di Reruntuhan Kekuasaan”

Menuju Sastra Nobel

Edy Firmansyah
suarakarya-online.com

Sejak Pramodya Ananta Toer meninggal 30 April 2006 silam, kegalauan banyak sastrawan negeri ini hingga sekarang adalah belum adanya sastrawan Indonesia yang menerima hadiah nobel. Meski setiap tahun ada ratusan sastrawan dari seluruh dunia yang diunggulkan mendapatkan Nobel untuk Sastra meski akhirnya yang terpilih hanya satu orang tetapi tak satupun sastrawan Indonesia yang disebut-sebut sebagai calon kandidat. Continue reading “Menuju Sastra Nobel”

Rasa Musik

Zuarman Ahmad
http://www.riaupos.com/

SUATU hari saya masuk ke dalam studio tari menyaksikan para penari latihan. Lama sekali saya termenung menyaksikan mereka latihan menari. ?Tari ?kita? tetap seperti dahulu juga, itu ke itu juga, tidak pernah berubah,? kata-kata saya dalam hati. Continue reading “Rasa Musik”

Bahasa ยป