Sastra Sejarah: Sastra dan Sejarah

Marhalim Zaini
riaupos.com

ADA persepsi yang seolah melekat-kuat di tubuh dunia Melayu, seolah identik, seolah bersebati, bahkan ia (kerap) menjadi sentral, ketika sistem sosio-politik feodalisme kerajaan, kita suguhkan dalam sebuah ruang perbincangan. Banyak sudah para ahli, juga para pengarang, dari zaman ke zaman merespon, menelaah, menggali berbagai materi dari berbagai perspektif. Continue reading “Sastra Sejarah: Sastra dan Sejarah”

Dicari: Pengamat Sastra yang “Banal”!

Menelaah Sastra Kontemporer Kita

Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

Siapakah pengamat yang menggali nama pengarang di luar kubu Humanisme Universal, di luar nama Goenawan Mohammad, Taufiq Ismail, Wiratmo Soekito, Gerson Poyk atau HB Jassin “termasuk Chairil Anwar” Siapakah yang menggali kekuatan sastra, tentu selain nama Pramoedya Ananta Toer, Agam Wispi atau Utuy Tatang Sontani di kubu Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra)? Sudah banyak! Continue reading “Dicari: Pengamat Sastra yang “Banal”!”

Sastra dan Perubahan Sosial

Andaru Ratnasari
http://www.surabayapost.co.id/

26 November 2008 lalu, HU Mardi Luhung, penyair Gresik, di hadapan mahasiswa Sastra Indonesia Unesa dalam mata kuliah Proses Kreatif mengaku terheran sendiri dengan puisi yang diciptakan. Salah satu puisinya menggambarkan Bawean. Setelah dimuat di koran nasional barulah dia berjalan-jalan ke Bawean. Maka ia seperti melihat puisi yang ditulisnya. Padahal, Henry (Panggilan Mardi Luhung) belum pernah menginjak kakinya di Bawean. Continue reading “Sastra dan Perubahan Sosial”

Estetika Sastra Pascamitos

:MENAMBANG TENAGA GAIB CERITA PANJI (Konsep Estetik dan Artistik Novel TANHA)

S. Jai

“MULA-MULA adalah kata. Jagad tersusun dari kata,” demikian tutur penyair Subagio Sastrowardoyo.

Kalimat itu boleh diungkap oleh yang memilih jalan hidup sebagai penyair. Namun orang lain, sah-sah saja manakala percaya dan menyakini bahwa nenek moyang segala ilmu -juga tentu saja kata- adalah mitos. Berpijak pada pendapat bahwa jauh sebelum kata-kata diperas, diperah sampai apuh beban artinya, mitos telah lebih dulu menyingkap makna sampai akarnya yang purba. Continue reading “Estetika Sastra Pascamitos”

ME-MITOS SEJARAH SASTRA

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Memitos, istilah saya untuk menyebut kebalikan dari kata jangka (ramal, meramal). Di Jawa ada pengistilahan ngerogo sukmo, semacam meranggehnya sukma. Maka memitos sejarah, serupa ngeranggeh cerito atau merengkuh cerita lama. Sejenis membongkar ingatan di bawah sadar sejarah bathin-raga kemanusiaan. Ini semoga bukan bentuk kelebihan hormon pengarang. Continue reading “ME-MITOS SEJARAH SASTRA”

Bahasa »