Revolusi Nasional dan Sastra Indonesia

Max Lane*
Sumber, http://www.sinarharapan.co.id/

Bukan hanya dalam bidang ekonomi Orde Baru menjeremuskan Indonesia ke dalam situasi nation-surrendering dan bukan nation-building. Ini juga terjadi di dalam bidang kebudayaan. Adalah sebuah kenyataan bahwa di sekolah-sekolah negeri Indonesia, sastra dan kebudayaan Indonesia, yaitu sastra dan kebudayaan hasil proses revolusi nasional, banyak diabaikan. Karya-karya sastra yang menjadi bahan pelajaran biasanya berhenti sampai Chairil Anwar. Continue reading “Revolusi Nasional dan Sastra Indonesia”

MENDULANG SPIRITUALITAS MENULIS HELVY TIANA ROSA

Sutejo
Ponorogo Pos

Dalam sebuah wawancara kecil dengan Kompas, seorang penulis perempuan berbakat pernah bilang begini: “Saya tidak ingin menyia-nyiakan talenta dari Tuhan dan menjadikan menulis sebagai salah satu bentuk ibadah.” Salahkah? Tentu, tidak. Karena, memang kita diciptakan oleh Tuhan untuk beribadah. Mengikat ilmu dengan menuliskannya, dengan sendirinya ibadah. Continue reading “MENDULANG SPIRITUALITAS MENULIS HELVY TIANA ROSA”

CHAIRIL ANWAR ATAU SUTARDJI CALZOUM BACHRI

Maman S. Mahayana *

Chairil Anwar telah menjadi sejarah. Puisi-puisinya dipandang telah berhasil menghancurkan konsep bentuk konvensional; persoalan seputar larik dan bait, tidak lagi menjadi syarat sebuah puisi. Ia juga menawarkan kemungkinan pemanfaatan bahasa sehari-hari sebagai sarana ekspresi yang memberi ruang yang lebih luas bagi penyair. Dengan begitu, penyair leluasa dan bebas mengumbar gagasan kreatifnya. Continue reading “CHAIRIL ANWAR ATAU SUTARDJI CALZOUM BACHRI”

Bahasa ยป