Multitafsir Pahlawan dalam Puisi

Jurnal Nasional, 12 Okt 2008
Theresia Purbandini

Dalam perkembangan puisi Indonesia terkini, tema pahlawan boleh dikata kurang mendapat perhatian. Ini berbeda bila kita membaca karya-karya puisi era 1945, 1966, atau kurun waktu sebelumnya, di mana tak sedikit penyair menuliskan semacam ode atau pujian terhadap sosok-sosok yang dianggap berjasa merebut kemerdekaan, sekaligus sebagai cara untuk memaknai kecintaan pada tanah air. Continue reading “Multitafsir Pahlawan dalam Puisi”

ASRIZAL NUR: DERAP KUDA DAN KEPAK RAJAWALI

Maman S Mahayana *

Hanya ada satu kata: Lawan!” Itulah kalimat pendek yang lahir dari kegelisahan panjang ketika kekuasaan telah menjelma gurita raksasa penindasan, membunuhi kemanusiaan, dan membungkam apa pun yang lahir dari hati nurani. Wiji Thukul, sang penyair, terus bergerak sampai nasib menggelindingkannya pada misteri tak berjawab: Hilang diterkam kekuasaan. Ia lalu menjadi sebuah ikon bagi gerakan perlawanan atas apa pun yang bernama tirani. Continue reading “ASRIZAL NUR: DERAP KUDA DAN KEPAK RAJAWALI”

Kebebasan di Balik Tembok Harem

Jurnal Nasional, 19 Okt 2008
Dwi Fitria

Tembok Harem tak mampu mengungkung pikiran bebas perempuan di dalamnya.

Buku ini memuat kenangan masa kecil salah seorang sosiolog dan feminis paling terkemuka Timur Tengah, Fatima Mernissi. Jika melihat sosoknya yang begitu konsisten mengangkat masalah perempuan dalam Islam, orang mungkin tak akan percaya bahwa Mernissi tumbuh dewasa dalam sebuah harem. Continue reading “Kebebasan di Balik Tembok Harem”

TENTANG PUISI EPIK

Maman S Mahayana *

Pembicaraan puisi epik biasanya selalu dikaitkan dengan kisah-kisah klasik peperangan dan kepahlawanan yang menakjubkan. Mengingat kisah-kisah itu terdiri dari serangkaian peristiwa dan sejumlah episode, maka bentuk puisi epik hampir selalu berupa puisi naratif yang panjang. Di dalam perkembangannya kemudian, panjang pendeknya puisi itu, bukanlah merupakan ukuran mutlak. Continue reading “TENTANG PUISI EPIK”

BELAJAR MENULIS DARI LAN FANG

Sutejo
Ponorogo Pos

Pada tanggal 8 Desember 2007 di Unesa Surabaya kampus Lidah adalah acara Seminar Nasional Sastra Pop untuk mengiringi pelepasan Prof Budi Darma yang purna sebagai guru besar. Pada saat itu hadir, sederetan penulis, penyair, cerpenis macam: Lan Fang, Yati Setiawan, Mashuri, Audex, Kurnia Fabiola, dan Budi Darma sendiri. Rencana, Saparto Broto juga hadir sebagai pembicara. Tapi saat itu tidak dapat hadir karena ada kepentingan keluarga di Jakarta. Continue reading “BELAJAR MENULIS DARI LAN FANG”

Bahasa »