Kebebasan di Balik Tembok Harem

Jurnal Nasional, 19 Okt 2008
Dwi Fitria

Tembok Harem tak mampu mengungkung pikiran bebas perempuan di dalamnya.

Buku ini memuat kenangan masa kecil salah seorang sosiolog dan feminis paling terkemuka Timur Tengah, Fatima Mernissi. Jika melihat sosoknya yang begitu konsisten mengangkat masalah perempuan dalam Islam, orang mungkin tak akan percaya bahwa Mernissi tumbuh dewasa dalam sebuah harem.

Dalam buku Perempuan-Perempuan Harem ini (sebelumnya telah diterbitkan dengan judul Teras Terlarang), Mernissi menggambarkan sekelumit kehidupan dan pengalamannya hidup dalam sebuah harem.

Harem sendiri adalah sebuah istilah yang tercatat telah digunakan di Barat sejak 1634. Asal-muasalnya adalah harem para bangsawan Turki di zaman kekaisaran Ottoman yang amat melegenda. Di sebuah harem bisa terdapat ratusan bahkan ribuan perempuan, terdiri dari ibu, para istri, saudara perempuan, anak dan kerabat perempuan lain seorang laki-laki.

Harem biasanya dijaga dengan amat ketat. Para perempuan tak bisa keluar dari sebuah harem. Pun tak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya. Suasana yang amat mengungkung inilah yang harus dihadapi setiap hari oleh para perempuan di sebuah harem.

Meskipun sejarah sempat mencatat, bahwa para perempuan dalam harem tak sepenuhnya tak berdaya. Selama 130 tahun selama abad ke-16 dan 17, para perempuan dalam harem kerajaan Ottoman memiliki pengaruh amat besar. Di masa ini perempuan dapat menggunakan hak penuh mereka sebagai keluarga kerajaan kecuali memimpin perang.

Ada empat perempuan harem yang istimewa, di antaranya Hurrem, yang berhasil mendirikan sebuah kediaman di istana di awal tahun 1530-an. Nurbanu, yang digambarkan sebagai perempuan pemberani dan bijaksana. Dan di abad ke-17, Kosem, yang berseteru dengan menantunya, Turhan. Perseteruan ini berujung pada pembunuhan Kosem pada 1651.

Namun masa-masa luar biasa para perempuan harem berakhir di situ. Sementara tradisi harem masih diteruskan hingga masa modern, saat Fatima Mernissi dilahirkan pada 1940.

Berlanjut pada masa kehidupan Mernissi, harem masih merupakan tempat yang mengekang kebebasan perempuan dengan cara sama seperti ratusan tahun sebelumnya. Mereka tak bisa keluar dari harem dengan bebas.

Gerbang rumah kami adalah sebuah hudud atau sebuah batas, karena kami harus minta izin untuk keluar-masuk. Tiap gerakan harus punya alasan, bahkan cara mencapai gerbang pun ada aturannya sendiri. Dari halaman, kita harus berjalan melalui sebuah koridor sangat panjang hingga bertemu Ahmed si penjaga pintu. Dia biasanya duduk di sofanya yang mirip takhta, selalu dengan baki teh di sampingnya, dan bersikap santai. Karena melewati gerbang itu selalu perlu negosiasi, kita akan diajak duduk-duduk di sampingnya, di sofanya yang antik, atau melihat dia bersantai ria di “fauteuil d’Franca”, di kursi yang keras dan jorok, yang dibelinya di joutya atau pasar loak setempat.—Hal 37

Meski hidup serba terkungkung, Mernissi menggambarkan karakter perempuan-perempuan kuat yang hidup di dalam harem tersebut. Ibunya, neneknya, para bibinya, juga sepupunya, memiliki cara mereka sendiri untuk menghadapi kehidupan yang serba dibatasi.

Ibunya ditampilkan sebagai sosok perempuan berpikiran maju, yang yakin bahwa laki-laki dan perempuan sama. Ibunya percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki potensi sama. Dan bahwa superioritas laki-laki bertentangan dengan ajaran Islam.

Nenek Mernissi, Yasima, merupakan bagian dari harem, namun memilih tinggal di sebuah pertanian di mana ia bisa keluar kapan pun ia inginkan. Yasimalah orang yang mengatakan pada Mernissi bahwa akan tiba masanya di mana laki-laki dan perempuan sederajat, dan seorang laki-laki hanya boleh memiliki satu istri. Sebuah dunia di mana perempuan akan mendapatkan pendidikan sama baiknya dengan laki-laki.

Kesadaran feminisme dalam bentuknya yang paling halus inilah yang kelak memengaruhi perhatian dan jadi fokus tulisan-tulisan Fatima Mernissi.

Fatima Mernissi dilahirkan di Fez, Maroko pada 1940. Ia lahir dalam sebuah keluarga menengah Maroko, di masa di mana seorang laki-laki memiliki lebih dari satu istri adalah sebuah kewajaran.

Setelah menempuh pendidikan dasar di Maroko, ia mendapatkan kesempatan untuk belajar ilmu politik di Universitas Sorbonne dan Brandeis University, Massachussets, Amerika. Ditempat yang terakhir ini ia mendapatkan gelar doktornya,.

Sekembalinya ke Maroko, Mernissi mengajar di Fakultas Sastra Universitas Mohammed V, dalam mata kuliah metodologi, sosiologi keluarga dan psikososiologi. Latar belakang tumbuh dalam sebuah harem jugalah yang membuat Mernissi menaruh perhatian besar terhadap Islam dan peran perempuan di dalamnya. Tema-tema ini kerap muncul dalam buku-bukunya semisal Islam and Democracy: Fear of the Modern World, Forgotten Queens of Islam, Scheherezade is not a Moroccan, Islam, Gender and Social Change, atau Women’s Rebellion & Islamic Memory.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *