Militer dalam Novel Kita

Grathia Pitaloka
Jurnal Nasional,19 Okt 2008

Novel Indonesia dihuni banyak tokoh dari beragam profesi, seperti wartawan, guru, pedagang, mahasiswa, dan juga militer.

Militer seolah tak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia, tak terkecuali dalam perkembangan dunia sastranya. “Bagi para sastrawan angkatan 45, militer sempat menjadi tema yang inspiratif,” kata Nurinwa Ki S Hendrowinoto kepada Jurnal Nasional, Selasa (14/10). Continue reading “Militer dalam Novel Kita”

Laskar Pelangi dan Ihwal Film Nasional

Fahrudin Nasrulloh*
Jawa Pos, 19 Okto 2008

Memperingati 10 Nopember 1945 adalah mengenang pekik hidup-mati, geriung tank yang merangsek, dan simbahan getih di Jembatan Merah Surabaya. Ini lelayap bayangan saya kiranya, sebelum saya menyimak memoar Bung Tomo dalam bukunya 10 Nopember (Penerbit Balapan: Jakarta, 1951). Tersebab itu, saya memburu berbulan-bulan film garapan Imam Tantowi yang berjudul Soerabaia 45: Hidup atau Mati!. Susah memang, tapi akhirnya ketemu juga di rentalan film di depan GOR Jombang. Continue reading “Laskar Pelangi dan Ihwal Film Nasional”

ASRUL SANI: KONSEPTOR SURAT KEPERCAYAANG GELANGGANG

Maman S. Mahayana *

Ketika kita bicara soal Polemik Kebudayaan, serta-merta nama yang segera muncul dalam ingatan kita adalah Sutan Takdir Alisjahbana. Tokoh inilah yang menggelindingkan perdebatan kultural saat bangsa ini dilanda kegandrungan romantisisme. Harapan untuk mendirikan dan merumuskan kebudayaan Indonesia menjadi sebuah keniscayaan yang mengejawantah di dalam perjuangan politik pergerakan dan berbagai gagasan mengenai kebudayaan Indonesia. Nama Alisjahbana lalu menjadi semacam mitos dalam perjuangan kebudayaan. Continue reading “ASRUL SANI: KONSEPTOR SURAT KEPERCAYAANG GELANGGANG”

Menimbang Diponegoro dalam Fiksi

Grathia Pitaloka
Jurnal Nasional, 12 Okt 2008

Bercermin pada realitas masyarakatnya, karya sastra Indonesia juga mengeksplorasi kisah dan perjalanan pahlawan.

Ingatan masyarakat Indonesia mengenai sosok Pangeran Diponegoro boleh jadi kian pudar tergerus roda zaman. Lalu, karena tak ingin tokoh yang dikaguminya hilang tersapu waktu, Remy Sylado mencoba menyegarkan kembali ingatan masyarakat tentang semangat kebangsaan Pangeran Diponegoro melalui novel. “Diponegoro sosok yang sangat menarik. Sekarang ini saya belum pernah menemukan orang yang memiliki rasa kebangsaan seperti dia,” kata Remy kepada Jurnal Nasional, Selasa (7/10). Continue reading “Menimbang Diponegoro dalam Fiksi”

Bahasa ยป