Write for Writing atawa Work for Works!

Bernando J. Sujibto *

(saya merasa bingung ketika hendak menuliskan catatan ini harus menggunakan judul bahasa Inggris. Apalagi bulan dan tahun ini adalah bulan dan tahun kebangkitan ke-Indonesia-an. Semua ini seperti menekan saya. Namun saya merasa bahasa Indonesia (tetap) kurang mumpuni. Saya tidak tahu kenapa demikian. Mungkin kalau terpaksa di-Indonesia-kan menjadi ‘menulislah untuk tulisan [itu sendiri]’…). Continue reading “Write for Writing atawa Work for Works!”

BERKACA MENULIS DARI NUREL

Sutejo

Nama Nurel Javissyarqi memang belum seagung penulis Indonesia lainnya. Tetapi misteri perjalanan kepenulisan adalah etos nabi yang alir penuh jiwa berkorban, total, dan –nyaris—tanpa pamrih balas. Sebuah pemberontakkan pemikiran sering dilemparkan. Tradisi dibalikkan. Pilihan dilakukan, termasuk untuk memberikan pelajaran kepada orang tuanya. Penting dicatat, karena orang tuanya adalah guru konvensional yang terus alirkan kerapian, ketaatan, dan keberaturan lain. Continue reading “BERKACA MENULIS DARI NUREL”

D. Zawawi Imron: Duta Madura untuk Sastra Indonesia Modern

Jamal D. Rahman

Dia adalah manusia ajaib dalam khazanah sastra Indonesia. Dari mana datangnya penyair ini? Apa yang bisa menjelaskan bahwa dari Batangbatang, sebuah desa sekitar 20 km sebelah timur kota Sumenep, Madura, lahir seorang penyair penting Indonesia yang sangat produktif, tanpa pendidikan dan pergaulan intelektual yang memadai? Tidak seperti banyak pernyair Indonesia, D. Zawawi Imron tetap memilih tinggal di desa kelahirannya, tempat inspirasi bergumul dengan imajinasi yang kemudian diolahnya menjadi konstruksi estetis yang relatif memukau. Continue reading “D. Zawawi Imron: Duta Madura untuk Sastra Indonesia Modern”

Bahasa »