Arie MP Tamba
Jurnal Nasional, 28 Sep 2008
Ketupat
akan berdosa membelah ketupat ini
beras-beras kasih, beras-beras rindu
telah bersetubuh dalam rimba sanubari
hingga alir sungai dari bukit azali
akan sampai ke muara Continue reading “Ketupat”
Arie MP Tamba
Jurnal Nasional, 28 Sep 2008
Ketupat
akan berdosa membelah ketupat ini
beras-beras kasih, beras-beras rindu
telah bersetubuh dalam rimba sanubari
hingga alir sungai dari bukit azali
akan sampai ke muara Continue reading “Ketupat”
Ribut Wijoto
Rentang sepuluh tahun terakhir, 1998-2007, ada kesalahan pada perkembangan eksplorasi bahasa cerpen. Bahasa diolah-maksimalkan, dicari pilihan kata paling tepat, dan kalimat diberi rima-ritme; kesemua usaha dilakukan tidak untuk memperkuat unsur cerpen. Justru sebaliknya, usaha kuat-keras tersebut, sepenuhnya untuk memperlemah potensi unsur cerpen. Continue reading “CERPEN NIRWAN SALAH FATAL”
Bernando J. Sujibto *
Bagi yang terikat
Merpati pasti lebih jinak
Memang bukan hanya sekedar ketepatan, ataupun ketidaksengajaan yang sia-sia belaka, jika akhirnya saya dan beberapa teman (Ira, Sukma, Imam, Roman, Lanceng, Joko, Yoso, Thendra, dan Koto) bisa bertandang ke tanah Minangkabau, khususnya di daerah Pesisir Barat pulau Sumatera, tempat Raudal TB, Indrian Koto, dan Riki Dhamparan Putra lahir. Continue reading “Ke Teluk Bayur, Tanah Minang Membujur”
Beni Setia
Jawa Pos, 28 Sep 2008
ADA banyak pihak yang kecewa ketika dengan senang hati Sutardji Calzoum Bachri (SCB) menerima Ahmad Bakrie Award 2008 untuk bidang kesusastraan –sebesar Rp 150.000.000 (seratus limapuluh juta rupiah). Mereka menginginkan SCB meniru Frans Magnis Suseno yang menolak pengharaan itu pada 2007, dengan mengaitkan institusi yang memberi anugerah itu (Freedom Institute) merupakan sisi sosial dari stake holder Bakrie Brother, yang salah satu anak perusahaannya (PT Lapindo Brantas) membuat masalah besar di Sidoarjo. Continue reading “Sutardji dan Sartre”
Jurnal Nasional, 28 Sep 2008
Theresia Purbandini
Tak banyak penyair Indonesia seperti Zawawi Imron, tetap memilih untuk berdomisili di desa kelahiran. Dalam hal ini, desa dengan alam yang kaya, jadi lebih penting lagi bagi Zawawi.
Zawawi Imron yang lahir di Batang-batang, Sumenep, Madura pada 1945. Sejak 1970-an, di tengah riuhnya panorama perkotaan memasuki puisi-puisi para penyair 1980-an, Zawawi muncul dengan kedesaannya. Continue reading “Penyair Kampung yang Memikat”