Ke Teluk Bayur, Tanah Minang Membujur

Bernando J. Sujibto

Bagi yang terikat
Merpati pasti lebih jinak

Memang bukan hanya sekedar ketepatan, ataupun ketidaksengajaan yang sia-sia belaka, jika akhirnya saya dan beberapa teman (Ira, Sukma, Imam, Roman, Lanceng, Joko, Yoso, Thendra, dan Koto) bisa bertandang ke tanah Minangkabau, khususnya di daerah Pesisir Barat pulau Sumatera, tempat Raudal TB, Indrian Koto, dan Riki Dhamparan Putra lahir. Jauh sebelum hari itu, tanggal 27-29 April 2008, hari penting dalam peta perjalanan hidup ini, saya sudah begitu terbius-kagum kepada tanah kelahiran si ‘mitos’ Siti Nurbaya. Di sana pula telah saya tahu, meskipun mungkin telat, HAMKA, Marah Rusli, Hanafi, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Abdul Muis, dengan jalannya sendiri yang telah ditempuh untuk suatu yang sangat berharga demi martabat bangsa dan negara ini.

Tujuan saya dan teman-teman pertama adalah Payakumbuh, kota yang airnya bersih dan ikannya jinak (sebuah adagium tanah darek Payakumbuh). Di sana kita ada perhelatan temu penyair 5 kota yang sampai hari ini ada banyak penolakan dan polemik dari banyak teman-teman, khusunya penyair muda. Saya sangat bersyukur jika polemik itu terus berlanjut dengan kesadaran dan dialektika kebudayaan yang cerdas karena bagaimanapun bangsa yang kuat lahir dari pertaruhan dan pertarungan yang kuta pula. Untuk mengisi waktu sisa acara, kami pun melanglang ke Bukittinggi, Padang, dan Pesisir Barat yang lain.

Bagi orang yang tidak mempunyai kontak-spirit emosi, tanah Minang memang tidak ada yang bisa dibanggakan khusunya untuk hari ini—juga serupa daerah-daerah lain yang dari hari ke hari makin sekarat dikerat globalisasi dan modernasasi. Semua berubah ke arah degraden yang mencemaskan khususnya bagi saya sebagai pegagum budaya dan kreasi tradisi masa lalu bangsa ini.

Namun, bagi saya sebagai pembaca yang sebelumnya telah dibius pertalian emosi yang teramat dalam dengan jalan-jalan dan aroma tanah Minang, adalah sebuah keistimewaan bisa mengunjungi tanah Minang pada akhirnya. Pertalian emosi itu di tanah Minang saya lahirkan menjadi media dialog antara realitas yang saya hadpi dengan spirit-kepercayaan yang telah saya rengkuh dari bacaan-bacaan masa kecil (khususnya waktu saya masih di bangku SD saat membaca buku-buku itu… dan buku itu saya rompak dari perpustakaan sekolah karena tidak diperkenankan untuk dipinajmkan dan dibawa pulang selain boleh dibaca waktu jam sekolah saja, yang siapapun tahu kapan ‘jam sekolah’ bagi sekolah kampung terpencil.)

Jika kepercayaan suatu masyarakat kepada tradisi melahirkan ‘mios’, seperti kasus jembatan dan makam Siti Nurbaya yang hari ini bisa kita kunjungi di Padang, begitu juga bagi saya di mana pada akhirnya saya merasakan bahwa kepercayaan yang demikian nyaris tidak pernah sah sebelum melahirkan simbol yang bisa mengokohkan kepercayaan bagi suatu masyarakat. Simbol adalah hasil sebuah karya dan karsa; kepercayaan—untuk melahirkan karya—adalah basis terkuat yang tidak ditawar untuk membuktikannya. Dari simbol itu kemudian saya coba mengkomonikasikannya dengan apa yang telah saya bawa dalam sekeping ingatan kecil saya.

Ternyata mujarab. Minang yang telah menanam ‘kekuatan’ dalam diri saya lahir kembali meskipun dengan nuansa yang jauh dari keping ingatan itu. Saya bisa menyembuhkan ingatan itu dengan meraup butir-bitir pasir atau tanah sawah dengan keyakinan bahwa: dari tanah itu kepercayaan dan sebuah karya lahir dan mengembang ke semua lapisan dan ranah.

Akhirnya, kearifan (wisdom) adalah jalan yang paling bijak untuk dipertaruhkan sepenuhnya dalam hidup ini. Kearifan di sini saya pahami sebagai sebentuk kesadaran hakiki (holistical conciousness) yang bisa membawa jasad kepada suatu yang semestinya menurut konteks yang natural. Dengan kearifan akan lahir sekian banyak respon positif yang dikembangkan dari rasa dan karsa kemanusiaan kita dalam menghadapi kehidupan yang berlari.

Minang-Jakarta, 03 Mei 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *