MENGADA BERSAMA JOSTEIN GAARDER

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=72

“Untuk mengada, kita tidak hanya mendapat jatah tempat. Kita juga punya rentang waktu yang sudah ditetapkan.” (Jostein Gaarder).

Pun bagaimana, dunia diciptakan melewati pengadaan, semisal mengawali tulisan yang menggelora. Segala yang terbentang kemudian, ternyata bukan endapan dalam, juga tidak sedari rentetan panjang penalaran. Kadang keseluruan mendadak meloncat dari fikiran-perasaan yang sempat terbangun, yang tidak sanggup mengikuti gerakan peredarannya. Continue reading “MENGADA BERSAMA JOSTEIN GAARDER”

Penjungkirbalikan Logika Formal

Dwi Fitria
Jurnal Nasional, 7 Sep 2008

Melalui cerpen-cerpennya, Danarto mempertontonkan berbagai peluang logika cerita yang tak harus konvensional.

Eksperimentasi dalam khazanah Sastra Indonesia mulai marak pada 1970-an. Saat inilah muncul eksplorasi yang amat beragam bentuknya. Para penulis menjajal gaya berbahasa yang berbeda, bereksperimen dengan teknik bercerita, juga mencoba memasukkan elemen-elemen visual sebagai bagian dari karya mereka. Continue reading “Penjungkirbalikan Logika Formal”

Pengarang yang Menggandeng Jibril

Grathia Pitaloka
Jurnal Nasional 7 Sep 2008

Berbicara mengenai spiritualitas dalam karya sastra Indonesia, tak genap rasanya bila tak menyebut Danarto.
Membaca cerpen-cerpen Danarto, lelaki kelahiran Sragen, 27 Juni 1940 ini, seperti masuk ke sebuah dunia asing layaknya Alice in the Wonderland. Dengan cantik Danarto menyulap pohon, hantu, bahkan ayat suci Al Quran menjadi tokoh dalam ceritanya. Berlatarkan nuansa Jawa yang sangat kental, Danarto mengetengahkan cerita bergaya surealis lengkap dengan pilihan kata fantastis. Continue reading “Pengarang yang Menggandeng Jibril”

Persoalan Seni Fiksi dan Seni Fakta

Hudan Hidayat
Republika 10 Feb 2008

Mengkritisi tradisi sastra Indonesia terkini yang ditandai kecenderungan menguatnya politik sastra, penyair Ahmadun meminta kita berdialog kembali kepada teks. Sehingga, yang akan terjadi bukanlah “inilah saya”, tapi ”inilah karya saya.”

Opini penyair Sembahyang Rumputan itu nampak mengandung perbedaan yang tegas. Tapi, kalau kita pikirkan lagi, “inilah saya” dan “inilah karya saya” adalah hal yang niscaya. Karena “saya” berada di dalam “karya saya”. Continue reading “Persoalan Seni Fiksi dan Seni Fakta”

Solzhenitsyn: Gairah Agung dari Gulag

7 Sep 2008, Jawa Pos

Binhad Nurrohmat*

Solzhenitsyn (1911-2008) telah menuliskan yang mesti dikenang manusia, dan kematian sastrawan itu kian menghidupkan pesan: misi kemanusiaan dalam kesusastraan selamanya melekati ingatan dunia, dan tak sebatas ihwal tragedi Gulag, sebuah genre penjara amat keji ”karya besar” rezim totaliter Sovyet di masa kekuasaan Stalin yang oleh Solzhenitsyn dalam sebuah suratnya disebut sebagai ”pria brengosan” itu. Kesusastraan Solzhenitsyn menorehkan percikan-percikan keluhuran dan kedalaman pengertian dari sejarah panjang kezaliman kekuasaan di negerinya, tanah Rusia. Continue reading “Solzhenitsyn: Gairah Agung dari Gulag”

Bahasa »