Bahasa Peristiwa Sebagai Sastra Perlawanan

Matroni Musèrang *

Sastra melawan pernah digayang Wiji Tukul dengan hanya ada satu kata Lawan! Chairil Anwar, Rendra dengan puisi Famlet dalam puisi. Putu Wijaya dengan Novel dan dramanya, dan sekarang dimotori oleh Sosiawan Leak dengan Sastra Menolak Korupsi. Namun ada waktu senggang yang menjadikan sastra mengalami kelesuan, salah satu alasan mengapa kelesuan itu terjadi yaitu, karena tidak ada gerakan progresivitas, salah satu lainnya adalah tidak adanya keinginan mencoba mencari ide-ide segar, ide-ide baru untuk dituliskan, sehingga yang terjadi “daur ulang” dari puisi-puisi yang terbit di koran dan buku. Continue reading “Bahasa Peristiwa Sebagai Sastra Perlawanan”