Tag Archives: Esai

Ikhtiar Membumikan Teater Seraya Mengingat Lampat Kemaduraan

Achdiar Redy Setiawan
JP Radar Madura, 30 Jul 2017

SEBUAH keberuntungan bagi saya dapat menjadi saksi atas pertunjukan ini. Sebuah ikhtiar menghadirkan penampilan teatrikal langsung di tengah permukiman masyarakat (desa). Minggu malam, 23 Juli 2017 di tengah ladang singkong Desa Nyapar, Kecamatan Dasuk, Sumenep, Anwari menyutradarai karya yang diklaim sebagai teater antropologi.

Naskah Drama: Yang Berkecai dan Jarang Disatukan

Mahwi Air Tawar *
JP Radar Madura, 23 Jul 2017

PENERBITAN buku naskah drama tak semenggeliat penerbitan buku-buku novel, cerpen, dan bahkan puisi. Bagi sebagian penerbit, baik penerbit indie maupun mayor, menerbitkan buku naskah drama —setidaknya di Indonesia— dianggap menghamburkan biaya produksi, karena terbatasnya pembeli.

Matroni Muserang: Dari Madura ke Majelis Sastra Asia Tenggara

F. Moses *
JP Radar Madura, 26 Jul 2017

MADURA selalu menawarkan nama baru dalam kontes panggung kesusastraan Indonesia. Nama-nama penyair muda dari Madura tak pernah absen dari media-media yang setiap minggu memuat karya-karya sastra, cerpen, esai, dan terutama puisi. Di pulau yang dikenal dengan karapan sapinya ini: menjadi penyair seakan menjadi cita-cita hidup setelah naik haji, demikian seorang kawan dalam sebuah pertemuan berseloroh.

Belajar dari Penyair Mastera Puisi

Matroni Muserang *
JP Radar Madura, 27 Agu 2017

MAJELIS Sastra Asia Tenggara (Mastera) pada 7–13 Agustus 2017 di Puncak, Bogor, yang kebetulan saya menjadi salah satu pesertanya. Saya benar-benar menyadari, untuk menjadi penyair tidak mudah. Penyair bukanlah ia yang sudah menerbitkan buku puisi dan dimuat di media berkali-kali.

SASTRA YANG MEMBANGUN SOLIDARITAS

Gatot Prakoso
libatsolo.blogspot.co.id

Bencana tsunami yang menghancurkan Aceh dan sebagian Sumatera Utara sungguh memilukan. Peristiwa yang telah membunuh 160-an ribu jiwa (puluhan ribu lainnya hilang tak ketahuan rimba) sudah pasti akan membuat siapapun trenyuh. Sungguh tak bisa dipercaya. Apa yang telah kita perbuat sehingga Tuhan begitu “marah” dan mengambil jiwa-jiwa tak berdosa itu?