Melampaui Kritik Sastra Baru yang Terbaru

Hasnan Bachtiar *

Aku ingin meletakkan sekuntum sajak di makam nabi, supaya sejarah menjadi jinak dan mengirim sepasang merpati – Kuntowijoyo –

UPAYA susastra seorang sastrawan, adalah aktivitas sejarah. Betapapun di era kontemporer ini marak dikumandangkan karya sastra yang dianggap otonom, maka penulis sastra tidak pernah terbang dari bumi di mana ia berpijak. Continue reading “Melampaui Kritik Sastra Baru yang Terbaru”

Mengenang Dami N. Toda: Penyair yang Beralih Jadi Kritikus

Yohanes Sehandi *
yohanessehandi.blogspot.co.id

Tanggal 10 November 2017 ini kita mengenang 11 tahun kepergian kritikus sastra Indonesia modern Dami N. Toda. Nama lengkapnya Damianus Ndandu Toda. Dami N. Toda meninggal dunia pada 10 November 2006 di Leezen, Hamburg, Jerman pada usia 64 tahun. Lahir pada 29 September 1942 di Cewang, Todo-Pongkor, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Abu jenazahnya dibawa ke Indonesia pada Oktober 2007, dengan rute perjalanan Jerman-Jakarta-Kupang-Manggarai terus ke Todo-Pongkor tempat peristirahatannya yang abadi. Continue reading “Mengenang Dami N. Toda: Penyair yang Beralih Jadi Kritikus”

Cinta dan Kemabukan-Kemabukan

Alunk Estohank

Cinta merupakan sebuah persoalan yang tak pernah bosan untuk kita bicarakan. Cinta merupakan alasan kenapa Adam dan Hawa diturunkan ke dunia, dan kenapa Qais harus menjadi gila.

Cinta adalah suatu hal yang sangat sulit untuk kita definisikan bahkan kamus besar bahasa Indonesia pun (KBBI) tidak sanggup mendefinisikan kata cinta hingga membuat kita puas akan arti cinta yang sesungguhnya. Jika kita memakai perspektif anak muda, cinta itu bukan untuk didefinisikan tapi untuk dirasakan. Berangkat dari perspektif tersebut maka anak-anak muda saat ini berlomba-lomba ingin merasakan manisnya cinta. Dari itu tidak salah kiranya apa yang dilantunkan Raza Lawang Sewu dalam lagunya (cinta anak kampung) “kalau cinta sudah melekat, gula jawa rasa coklat”. Continue reading “Cinta dan Kemabukan-Kemabukan”

Narasi Menolak Hegemoni

S Prasetyo Utomo
opinicetak.blogspot.co.id

Cerpen Indonesia mutakhir bersentuhan pula dengan pembebasan terhadap hegemoni kekuasaan. Cerpen-cerpen terbaik pilihan Kompas, beberapa di antaranya, menebar empati pada persoalan hidup manusia di sekitar sastrawan, dan hegemoni kekuasaan menjadi salah satu sumber imajinasi. Hegemoni kekuasaan menjadi bagian obsesi sastrawan, dengan ketajaman sudut pandang yang beragam. Continue reading “Narasi Menolak Hegemoni”

Geliat Menulis Esai Kritik Sastra dan Eksistensi SST (Sanggar Sastra Tasik) di Tasikmalaya

D. Dudu A.R *

AJAKAN workshop menulis kritik sastra dan laporan budaya dari Jodhi Yudono (pemangku rubrik oase-kompas.com) kepada saya (Pondok Media) beberapa waktu lalu, merupakan salah satu indikasi produktivitas masyarakat Tasikmalaya–menulis essay kritik sastra–jarang geliatnya. Beliau menyatakan ingin sekali masyarakat Tasikmalaya intens menulis kritik sastra dalam rangka memasyarakatkan sastra. Continue reading “Geliat Menulis Esai Kritik Sastra dan Eksistensi SST (Sanggar Sastra Tasik) di Tasikmalaya”

Bahasa »