Berlari Mengejar Gagasan

Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd *

DARI MANA datangnya gagasan satu tulisan?

Tentulah bisa dari rupa-rupa sumber: tak ada sumber tunggal yang wajib ditimba oleh seorang penulis untuk menggapai, menemu atau menjemput suatu gagasan guna dituang ke dalam satu tulisan. Pendapat orang per orang, ingatan pribadi atau bersama, figur manusia, pengalaman pribadi atau kolektif, pemikiran orang per orang, dan peristiwa atau kejadian tertentu yang tersebar dan terserak di lapangan kehidupan manusia, bisa menjadi sumber mendapatkan gagasan satu tulisan. Continue reading “Berlari Mengejar Gagasan”

‘Tanda dan Melampaui Tanda’

Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna (2003)

Audifax *
rumahbukuku.wordpress.com

‘Tanda dan Pelampauan Tanda’, itulah yang saya tangkap dari buku ‘Hipersemiotika – Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna’ yang terbit pada tahun (2003). buku karya Yasraf Amir Piliang ini pernah terbit sebelumnya dengan judul ‘Hiper-realitas Kebudayaan’ yang kemudian ‘diterbitkan kembali’ dengan beberapa penambahan. buku ini, bisa dikategorikan sebuah pengantar untuk memelajari semiotika posmodern, atau postrukturalisme Continue reading “‘Tanda dan Melampaui Tanda’”

ESTETIKA SKIZOFERNIA: KEMUNGKINAN DAN KETIDAKMUNGKINAN “MUSEUM PENGHANCUR DOKUMEN”

Dedi Sahara
mengebiriwaktu.cf

Dalam buku antologi Museum Penghancur Dokumen —dalam esai penutupnya— Afrizal Malna mengatakan bahwa “puisi dengan bahasa sebagai mediumnya, tetapi bukan berarti bahasa sebagai identitas puisi”. Dengan kata lain bahwa puisi, walaupun menggunakan bahasa, tetapi bukanlah produk bahasa. Lebih lanjut lagi Afrizal mengatakan bahwa “puisi sebagai karya seni dari pada sebagai karya sastra”. Continue reading “ESTETIKA SKIZOFERNIA: KEMUNGKINAN DAN KETIDAKMUNGKINAN “MUSEUM PENGHANCUR DOKUMEN””

MATINYA MAKNA RUNTUHNYA IDEOLOGI

Dini Maulia *
sastraminangkabau.blogspot.co.id

Apa yang dikemukan Barthes (dalam Andrew, 1999) atas matinya pengarang adalah benar. Di saat kemunculan pembaca di sanalah kematian bagi pengarang. Begitupun dengan Nitchzee dengan pernyataannya dengan kematian tuhan, namun hakikatrnya bukanlah tuhan sebenarnya dan bukan pula pengarang sebenarnya, tetapi yang ditekankan adalah kematian bagi makna itu sendiri. Bertepatan dengan itu pula manusia kehilangan tujuan, ketika tanda telah di terjemahkan melampoi batas-batas realitasnya, di sanalah kematian bagi makna. Continue reading “MATINYA MAKNA RUNTUHNYA IDEOLOGI”

Bahasa »