Perayaan Keberagaman Gender dan Seksualitas dalam Sastra Perempuan Kita

Nissa Rengganis *
Radar Cirebon, 16 Juli 2017

SAYA percaya, sastra tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah rekaman dari kepincangan-kepincangan sosial. Ia adalah nukilan tragedi yang tersisa dari carut marutnya perang. Ia adalah keterasingan, keterpinggiran sekaligus semangat perlawanan pada diri dan zamannya. Sastra tidak pernah tercipta dari kekosongan budaya. Ia bercampur aduk dengan apa-apa yang hidup di dalamnya. Continue reading “Perayaan Keberagaman Gender dan Seksualitas dalam Sastra Perempuan Kita”

OTT Bukan Tragedi

Budi Darma *
Jawa Pos, 11 Okt 2017

Baru-baru ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Ketua Pengadilan Tinggi Sulawesi Utara (PT Sulut) berinisial SDW dan anggota DPR AAM. Penangkapan terjadi saat AAM berusaha menyerahkan uang suap kepada SDW untuk kepentingan AAM. Uang suap senilai Rp 1 miliar itu diharapkan dapat memengaruhi putusan hakim di pengadilan dalam menyelesaikan perkara korupsi yang membelit ibu AAM. Continue reading “OTT Bukan Tragedi”

Kritik Sastra Indonesia dalam Dua Arus

Yohanes Sehandi *
Flores Pos (Ende), 11 Nov 2017

Kritikus sastra Indonesia Maman S. Mahayana dalam bukunya berjudul Kitab Kritik Sastra (2015) menyatakan bahwa istilah “kritik sastra” di Indonesia pertama kali digunakan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) dalam tulisannya di majalah Pandji Poestaka edisi 5 Juli 1932 berjudul “Kritik Kesoesasteraan.” Menurut Mahayana, inilah artikel pertama yang secara eksplisit mencantumkan kata kritik sastra. Sejak saat itulah istilah kritik sastra digunakan orang untuk menunjuk sebuah tulisan (esai atau artikel) di media massa yang membicarakan (karya) sastra sebagai kritik sastra. Setelah keluar dari Pandji Poestaka STA melanjutkan tradisi kritik sastra Indonesia dalam majalah Poedjangga Baroe yang dipimpinnya. Continue reading “Kritik Sastra Indonesia dalam Dua Arus”

Kedaulatan Bahasa Indonesia di Era Keterbukaan

Amandus Klau *
Pos Kupang, 25 Nov 2017

Dunia di tengah kepungan media massa dan inovasi teknologi transportasi canggih kini tampak bagai sebuah kampung kecil. Belahan dunia tertentu, yang sebelumnya mustahil dijangkau orang-orang dari belahan dunia lainnya, kini dapat dijangkau dalam hitungan jam, bahkan menit.

Pelbagai peristiwa yang terjadi di suatu negara, yang sebelumnya tidak pernah diketahui oleh orang-orang yang berada di negara lainnya, kini segera dapat diketahui dalam hitungan menit bahkan dapat disaksikan secara langsung. Dunia terasa semakin kecil dan sempit. Continue reading “Kedaulatan Bahasa Indonesia di Era Keterbukaan”

Bahasa »