Tantangan Miterealis Han Gagas

Saifur Rohman

Cerpen-cerpen Indonesia mutakhir diwarnai oleh komodifikasi yang bisa disingkat dengan jimat “cerpen koran”. Bentuknya ringkas, isinya padat, dikemas dengan gaya yang unik, selesailah. Seperti membuat pop mie; cepat saji, segar, dan gurih.

Di tengah-tengah komodifikasi itu, kumpulan cerpen bertajuk Ritual (2012) karya Han Gagas sesungguhnya bisa diapresiasi sebagai sebuah perlawanan yang betul-betul berani terhadap kemasan cerpen koran. Continue reading “Tantangan Miterealis Han Gagas”

Wajah sebagai Topeng

Damhuri Muhammad *
Kompas, 15 Maret 2009

SEBERAPA jernih raut wajah mencerminkan kejatidirian yang paling asali? Lelaku, sifat dan tabiat barangkali memang dapat tergambar dari garis-garis wajah.

Dalam realitas yang menyehari, pertanda amarah biasa digambarkan oleh rona muka merah-padam, begitu pun keramahan, tertandai dengan raut wajah yang bersih dan berseri-seri. Continue reading “Wajah sebagai Topeng”

Pluralisme Budaya dan Rekonsiliasi Sosial

A. Fauzie Nurdin
Lampung Post, 18 Maret 2009

PENGAKUAN terhadap masyarakat adat sebagai bagian tidak terpisahkan dari masyarakat bangsa dalam negara merupakan hak setiap manusia berbudaya. Ini dapat dibuktikan secara historis, sosiologis maupun antropologis.

Pemahaman pluralisme budaya memerlukan pendekatan filosofis yang bersifat universal, komprehensif, dan integral melalui berbagai kajian ilmu. Jika pendekatan filsafat disepakati dan budaya lokal menjadi indikator, pluralisme dalam tataran ideal, praksis, politik maupun strategis ternyata bersifat manusiawi dan sangat sensitif. Continue reading “Pluralisme Budaya dan Rekonsiliasi Sosial”

Manusia Pascakematian Humanisme

Bambang Sugiharto *
Kompas, 21 Maret 2009

”HUMANISME” adalah isu yang kini telah menjadi purba, kedaluwarsa. Begitulah kesan umum dalam era pascamodern milenium ketiga ini. Namun, sebetulnya itu tidak sepenuhnya benar.

Sebagai aliran filsafat ataupun ideologi, mungkin hal itu memang sudah berlalu. Humanisme telah didekonstruksi, dari sisi teoretis maupun praktik. Namun sebagai wacana reflektif ihwal humanitas atau tentang apa artinya menjadi manusia, hal itu jauh dari kedaluwarsa. ”Humanisme” kini justru menuntut perenungan ulang. Continue reading “Manusia Pascakematian Humanisme”

Bahasa »