Parodi: Rekreasi dan Kreasi Puisi

Ribut Wijoto

Parodi di dalam masyarakat dipahami sebagai lelucon. Kesalahan-kesalahan tersengaja yang dimaksudkan agar orang lain tertawa. Misalnya dalam “Ketoprak Humor” Srimulat yang disiarkan stasiun televisi RCTI, tokoh Timbul mengartikan “rumah sakit” sebagai “rumah yang sakit”, padahal arti sebenarnya adalah “rumah tempat menyembuhkan orang sakit”. Atau “orang warung” diartikan sebagai “orang ber-wajah murung”. Maka penonton pun tertawa riuh, terbahak-bahak. Continue reading “Parodi: Rekreasi dan Kreasi Puisi”

Bhartrihari

Hasif Amini
Kompas, 16 Juli 2006

Puisi lirik dari khazanah sastra Sanskerta seakan tersembunyi. Epik Ramayana gubahan Valmiki dan Mahabharata susunan Vyasa adalah sepasang karya tinggi besar dengan bayang-bayang demikian panjang, sehingga orang bisa lupa bahwa telah mengalun dan merebak juga banyak nyanyian di sekitar bayang-bayang itu. Continue reading “Bhartrihari”

Membaca dan Selimut

Emha Ainun Nadjib
http://sudisman.blogspot.com/

Kiai Sudrun berkata kepada cucunya, seorang sarjana yang tadi siang diwisuda.

“Di zaman dahulu kala terdapatlah makhluk yang bernama Kebudayaan Barat.
Pada masa itu tak ada barang di muka bumi ini yang dikutuk orang melebihi kebudayaan barat sehingga ia dianggap sedikit saja lebih baik dari anjing kurap. Continue reading “Membaca dan Selimut”

Puisi Camp, Feminisme, dan Penghancuran Realitas

Ribut Wijoto

Alam imajinasi adalah alam tanpa batas. Puisi sebagai teks produksi imajinasi merupakan “hutan lambang” (meminjam ungkapan Charles Baudelaire pada puisi “Perimbangan”) sehingga pembaca berhak membentuk peta perambahan dan nama-nama binatang yang disukai. Pada teks puisi, pada hutan lambang tersebut, seseorang bebas memilih jenis kelamin yang diinginkan. Puisi yang cerdas menyediakan segala menu identitas, dan karenanya, cenderung tanpa kepastian identitas. Continue reading “Puisi Camp, Feminisme, dan Penghancuran Realitas”

Dasar Teori Tentang Majnun (Demokrasi Tolol Versi Saridin)

Emha Ainun Nadjib
http://sudisman.blogspot.com/

Memang bukan Saridin namanya kalau tidak gila. Dan bukan gilanya Saridin kalau definisinya sama dengan definisi Anda tentang gila. Wong sama saya saja Saridin sering bertengkar soal mana yang gila dan mana yang tidak kok. Padahal saya juga agak gila. Apalagi sama Anda. Anda kan jelas-jelas waras. Continue reading “Dasar Teori Tentang Majnun (Demokrasi Tolol Versi Saridin)”

Bahasa »