Pelajaran Supit Urang Jagaraga, 155 Tahun Silam

I Made Prabaswara
http://www.balipost.co.id/

JAGARAGA, Buleleng, sesungguhnya menghamparkan pelajaran kaya makna bagi Bali dalam menghadapi gelombang besar pengaruh asing modernisasi di kemudian hari. Pelajaran itu dipancangkan 9 Juni 1848. Dalam peristiwa 155 tahun silam itu, Belanda yang bersenjata tempur otomatis dan lengkap keok oleh laskar persekutuan segitiga Buleleng-Karangasem-Klungkung di bawah panglima perang Patih Agung I Gusti Ketut Jelantik. Continue reading “Pelajaran Supit Urang Jagaraga, 155 Tahun Silam”

Sang Bendesa Memetik Buah Karma

I Nyoman Tingkat
http://www.balipost.co.id/

Rubrik “Apresiasi” Bali Post Minggu sarat dengan kearifan lokal budaya Bali, tak terkecuali dalam pemuatan cerpen-cerpennya. Dari cerpen yang terang-terangan mengusung budaya lokal melalui cerpen berbahasa Bali (baca cerpen “Tresna Sujati”-nya Edy Suardiyana Putra), sampai dengan cerpen yang secara sembunyi-sembunyi mencoba mengkritisi kearifan lokal Bali sehingga memaksa pengarangnya membuat catatan kaki di akhir cerita untuk menjelaskan istilah-istilah dalam bahasa Bali ke bahasa Indonesia. Continue reading “Sang Bendesa Memetik Buah Karma”

Geguritan Bali sebagai Warisan Budaya Dunia….

I Nyoman Gede Sugiharta
http://www.balipost.co.id/

GEGURITAN, yang merupakan salah satu bentuk prosa Bali yang terikat perpajakan pupuh, dalam khazanah sastra tradisional dikategorikan sebagai sekar alit (bunga kecil). Sementara kakawin (karya sastra Jawa Kuna) disebut sekar agung (bunga besar). Pengkategorian ini, kalau dicermati, di dalamnya mengandung unsur ”menganggap enteng” geguritan. Saya banyak diberitahu oleh beberapa ”guru-guru”, juga lewat bacaan-bacaan yang tersedia, bahwa geguritan adalah batu pijakan untuk memasuki sastra besar (sekar agung), yaitu kakawin. Dengan kata lain, kakawin ”lebih tinggi” dari geguritan. Continue reading “Geguritan Bali sebagai Warisan Budaya Dunia….”

Bahasa ยป