MENGGUGAT AKSARA

Muhammad Rain *

Salah satu fungsi kritik sastra adalah sebagai bahan tulisan yang memberikan sumbangan pendapat, yang memberikan petunjuk kepada kebanyakan pembaca tentang karya sastra yang baik dan yang tidak baik, yang asli dan yang tidak asli. Untuk selanjutnya bahan tulisan itu dapat dijadikan pertimbangan bagi pengarang tentang karyanya, sehingga pengarang yang memanfaatkan kritik sastra akan dapat mengembangkan atau meningkatkan mutu hasil karyanya. Continue reading “MENGGUGAT AKSARA”

Menulis, Indikator Profesionalisme Guru

I Nengah Suandi
Bali Post, 8 Mei 2011

WACANA profesionalisme guru tampaknya tidak pernah selesai untuk dibicarakan lebih-lebih dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional. Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2008 tentang guru (Bab I, Pasal 1) jelas dan tegas menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, mengevaluasi peserta didik pada anak usia dini jalur formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Continue reading “Menulis, Indikator Profesionalisme Guru”

Puisi: Strategi Perekaman Dalam Situasi Dadakan

Sabrank Suparno

“Banyak waktu untuk masalah kecil. Banyak waktu untuk masalah besar.
Sedikit waktu untuk masalah kecil. Sedikit waktu untuk masalah besar.”

Puisi adalah hasil sadapan peristiwa alam semesta, di mana permasalahan yang amat gigantik dirangkum dan diperas sedemikian rupa menjadi santan, hingga sedemikian ringkas, padat, kental dalam satu rasa dan makna. Dari seribu permasalahan misalnya, puisi bisa merekam efektif mendekati target nominal yang sulit dicerpenkan, apalagi dinovelkan. Itu sebab, puisi kerap sebagai jalur paling ramai dilintasi sastrawan pemula sebelum merambah ke wilayah yang lebih lebar cakupannya: cerpen, novel. Continue reading “Puisi: Strategi Perekaman Dalam Situasi Dadakan”

Arogansi Teks Dan Elaborasi Penakluk Ide: Sebuah Prolog Kegelisahan

Agus Sulton

Manusia adalah pencipta budaya, dan sosial sebagai kekuatan ambisi untuk proses berbudaya. Individualitas berfikir setidaknya mampu membentuk budaya, namun budaya sendiri akan mempengarui manusia terhadapa kepribadian seseorang. Keduanya sebagai akar relasi akomodatif, dalam artian saling menyesuaikan dan dapat berkembang selama manusianya tidak menafikan sejarah pendahulu, kamudian dikemas ke dunia kekinian. Sebab itulah, sejarah sebagai tiang kekuatan bangsanya bahwa bangsa tersebut dikatakan bangsa yang banyak menyimpang tradisi-berbudaya. Continue reading “Arogansi Teks Dan Elaborasi Penakluk Ide: Sebuah Prolog Kegelisahan”

Bahasa »