Sekolah, Rumah

Asarpin

Merosotnya kesadaran kita tentang alam dan lingkungan tidak hanya tercermin pada perubahan yang terjadi di lingkungan sekolah, tapi juga di lingkungan rumah kita. Jika dulu kita memagari sumur di halaman atau di samping rumah kita cukup dengan tanaman yang rindang, kini semua telah berubah menjadi pagar beton. Jika atap sumur cukup dengan ilalang atau daun-daun, kini mesti pakai seng, asbes atau genteng. Belum lagi perubahan mental para pekerja yang menebang pohon di sepanjang jalan untuk memanasi aspal yang diperlukan untuk memperbaiki jalan yang sedang dibangun. Continue reading “Sekolah, Rumah”

Puisi Sebagai Perang Filsafat

Alex R. Nainggolan
Bali Post, 15 Mei 2011

PUISI merupakan sebuah permainan diri, di mana seluruh unsur tubuh bergerak. Sejumlah diksi yang tersusun, lebih layak disebut sebagai kesatuan yang unik. Posisi yang saling berjabat tangan. Maka puisi selalu berhadapan pula dengan filsafat, bagaimana penyair mengembalikan keyakinan, sikap, keraguan, kecemasan, kemarahan, kejengkelan, atau nuansa main-main terhadap hidup. Continue reading “Puisi Sebagai Perang Filsafat”

Para Pengisah Soeharto

Bandung Mawardi *
http://www.lampungpost.com/

SEJARAH itu belum terlampau jauh dari ingatan, masih terang untuk dibeberkan dan dikenangkan. Soeharto menoreh sejarah, 21 Mei 1998. Pengunduran diri sebagai presiden memberi lega, peristiwa ganjil dari seruan mengubah Indonesia. Sejarah pun melintasi kita dengan euforia dan angan tentang nasib (kekuasaan) Indonesia. Continue reading “Para Pengisah Soeharto”

Elitisme Kritikus Seni

Damhuri Muhammad
Kompas, 2 Jan 2011

ARIF B Prasetyo memaklumatkan kurun Facebook dan Twitter sebagai era kematian kritikus seni (Kompas, 19/12). Ia membincang berlimpah ruahnya ulasan karya seni di dunia maya, yang lantaran demokratisasi pembacaan, kemudian merenggut otoritas para kritikus.

”Siapa pun kini bisa menjadi kritikus yang berhak mengevaluasi puisi dan melegitimasi siapa pun yang ingin menjadi penyair,” ungkap Arif. Ia memperkokoh argumentasinya dengan diktum ”kematian pengarang” Roland Barthes (1915-1980) sebagai akibat dari meluasnya pembaca. Continue reading “Elitisme Kritikus Seni”

Bahasa »