Souvenir Fiksi Islami

Ahmadun Yosi Herfanda
Republika 19 Agus 2007

Suatu hari, pada tahun 2003, saya menerima buku kumpulan cerpen 20 Tahun Cinta. Saat itu, saya merasa gembira sekaligus terkesima. Buku kumpulan cerpen terbitan Senayan Abadi Publishing itu tidak hanya dikemas secara elegan dengan desain grafis yang cantik, tapi juga memuat cerpen-cerpen karya para cerpenis ternama yang beberapa di antaranya dikenal sebagai penulis buku-buku bestseller. Continue reading “Souvenir Fiksi Islami”

Sastra, Seks dan Moralitas Anak Bangsa

Lukman Asya*
Republika, 16 Sep 2007

POLEMIK tentang kebebasan berekspresi, agama dan moralitas selalu menarik. Begitu juga polemik yang disulut oleh dituduhkan Taufiq Ismail (TI) terhadap Fiksi Alat Kelamin (FAK), Mazhab Sastra Selangkangan (MSS), dan Gerakan Syahwat Merdeka (GSM), yang sejauh ini belum menemukan titik temu.

Menurut saya, pembacaan TI hendaknya disikapi terbuka dan bijaksana. Saya meyakini TI punya argumentasi kuat untuk itu, meskipun disampaikan dengan cara-cara seorang tua yang konservatif dan terkesan nyinyir. Continue reading “Sastra, Seks dan Moralitas Anak Bangsa”

Sebuah Tafsir dari Ranah Sunda

Teddi Muhtadin *
Media Indonesia, 16 Sep 2007

PERDEBATAN tentang sajak “Malaikat” karya Saeful Badar yang dimuat di lembaran budaya Khazanah Harian Umum Pikiran Rakyat telah memicu sejumlah penulis untuk menyatakan pendapatnya. Sayang, harian tersebut sudah menutup pintu untuk mendiskusikannya. Alhamdulillah, Media Indonesia (2/9) memuat tulisan berjudul “Tergelincirnya Sang Penafsir”, tulisan Hikmat Gumelar, seorang pekerja seni yang tinggal di Jatinangor, Jawa Barat. Hal ini dapat dijadikan tanda dibukanya kembali diskusi tentang tafsir secara lebih lanjut. Continue reading “Sebuah Tafsir dari Ranah Sunda”

Stigmatisasi Sastra Indonesia

Maria Magdalena Bhoernomo *
Seputar Indonesia, 23 Sep 2007

STIGMATISASI sastra Indonesia menjadi “sastra kelamin”, “sastra imperialis”, “sastra kontekstual”, “sastra pedalaman”, “sastra Islami”, “sastra kiri”, “sastra pop” dan lain sebagainya, perlukah?

Pertanyaan ini agaknya cukup penting untuk didiskusikan karena faktanya tidak membuat sastra Indonesia lebih akrab dengan masyarakat Indonesia. Mungkin saja pihak-pihak yang melakukan stigmatisasi sastra Indonesia berkepentingan positif. Misalnya, ingin membuat sastra Indonesia lebih akrab dengan kelompok masyarakat tertentu. Continue reading “Stigmatisasi Sastra Indonesia”

‘Gerakan Tirani Sastra’ Taufiq Ismail

Binhad Nurrohmat *
Borneonews, 28 Okt 2007

Akademi Jakarta (AJ) menyelenggarakan diskusi bertopik seputar cakrawala penciptaan dan pemikiran pada Agustus 2007 lalu di TIM, Jakarta, yang mendatangkan pembicara antara lain Yudi Latif dan Karlina Leksono serta dihadiri anggota AJ antara lain Rendra, Nh. Dini, Rosihan Anwar, Ahmad Syafii Maarif, dan Misbach Yusa Biran. Dalam diskusi itu saya mempertanyakan dan menuntut pertanggungjawaban AJ yang menggelar acara Pidato Kebudayaan Akademi Jakarta 2006 oleh Taufiq Ismail yang berjudul “Budaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka” di TIM, Jakarta, Desember 2006 silam. Continue reading “‘Gerakan Tirani Sastra’ Taufiq Ismail”

Bahasa »