Ideologi, Mitos, dan Kekuasaan Negara

Marhalim Zaini
Riau Pos, 10 April 2011

SAMPAI hari ini, saya masih percaya bahwa, sebuah negara yang dibentuk dari kekuasaan, memerlukan apa yang disebut sebagai ideologi. Banyak pakar menunjukkan dalam berbagai riset, bahwa faktanya (meski terus terjadi perdebatan dalam kajian-kajian sosial) selama sekitar 20 tahun terakhir, peran ideologi itu demikian krusial terutama untuk mengokohkan legitimiasi (kekuasaan) negara dalam “mengatasi” perkembangan masyarakat yang kian kompleks. Continue reading “Ideologi, Mitos, dan Kekuasaan Negara”

Islam dan Kebudayaan dalam Tunjuk Ajar Melayu (2-habis)

Junaidi
Riau Pos, 10 April 2011

ORANG Melayu berjuang untuk memajukan Islam meskipun nyawa mereka taruhannya. Keteguhan orang Melayu dalam memeluk Islam menunjukkan perpaduan yang teramat mendalam antara Islam dan jagad pikir orang Melayu.

Karena Islam menjadi identitas utama, orang Melayu diajarkan untuk mengenali diri, agama, dan Tuhan. Mengenali hakekat keberadaan diri sangat penting bagi manusia agar manusia mengetahui kedudukannya di dunia: Continue reading “Islam dan Kebudayaan dalam Tunjuk Ajar Melayu (2-habis)”

Waktu di Sayap Malaikat

Asarpin *
lampungpost.com

Dari sekian banyak penyair yang menulis tentang waktu, hanya sedikit sajak yang sungguh-sungguh menghadirkan pergulatan tentang waktu.

KALAU Voltaire membayangkan waktu sebagai ukuran keabadian, sesuatu yang panjang, saya hendak menegaskan di sini: waktu dapat dijadikan bahan tes bagi autentisitas seseorang. Kalau dia penyair, keautentikan dirinya sebagai penyair akan terlihat ketika ia menggarap soal waktu. Autentik atau tidak puisi yang dihasilkannya, juga dapat dilihat dan dirasakan oleh pembaca ketika ia membicarakan soal waktu. Continue reading “Waktu di Sayap Malaikat”

Sastra, Sains, dan Spirit Jaman

Imam Nawawi *
Minggu Pagi, 8 April 2011

Sastra diasumsikan ruang luas bagi permainan imajinasi kreatif, hamparan tak bertepi bagi loncatan-loncatan kreatifitas yang bersemangat. Sastra selalu bebas dari batasan-batasan rasionalitas dan kebenaran logis, selain logikanya sendiri.

Berkebalikan dengan sastra adalah sains. Sains sangat kaku dan terkekang dalam garis rasionalitas dan kebenaran ilmiah. Imajinasi tidak menemukan tempat nyaman dalam dunia sains. Imajinasi berada satu jengkal di depan rasionalitas, dan sekaligus pemicu semangat bagi sains untuk mengembangkan dirinya sendiri. Continue reading “Sastra, Sains, dan Spirit Jaman”

Bahasa »