Teologi Plagiat atau Teologi Kiamat?

Asarpin *

Dalam dua dekade terakhir, kajian tentang teologi diberbagai media begitu semarak. Begitu banyak varian teologi yang coba digagas, mulai yang abu-abu sampai yang terang-benderang, mulai dari yang malu-malu sampai yang gagah berani, mulai dari “teologi tuhan mati” sampai “teologi harga diri”.

Bahkan, ada pula “teologi sepak bola”, dalam arti melihat sepak bola dari kacamata teologi. Ada pula teologi permainan, teologi postmodernisme dan masih banyak lagi. Jangan tanya tentang teologi transformatif, teologi pembebasan, teologi pluralis, teologi humanis, teologi liberal, yang memang banyak pengikut di negeri ini. Continue reading “Teologi Plagiat atau Teologi Kiamat?”

OLIMPIADE SASTRA: MEMBANGUN PARADIGMA

Maman S Mahayana *

Olimpiade mulanya dimaksudkan sebagai penghormatan pada Zeus, Dewa Yunani kuno. Perayaan yang diselenggarakan di kota Olympia, Yunani itu sebagai cikal bakal pesta olahraga sejagat yang hingga kini diyakini sebagai perhelatan olahraga paling bergengsi dan reputasional. Pierre de Coubertin yang konon bertindak sebagai orang pertama yang membawa perhelatan itu menjadi olimpiade modern yang diselenggarakan pertama kali di Athena, Yunani tahun 1896. Selepas itu, setiap empat tahun sekali pesta olahraga termegah ini diselenggarakan yang melibatkan lebih dari separoh negara yang berada di jagat raya ini. Continue reading “OLIMPIADE SASTRA: MEMBANGUN PARADIGMA”

Membongkar Manusia, Mempertanyakan Manusia

”A Tribute to Oscar Wilde”
Kadek Sonia Piscayanti
http://www.balipost.co.id/

PANGGUNG merah. Pada pusat panggung, lampu menyorot sebuah lukisan. Musik meneror penonton. Lukisan yang tergantung itu bukanlah lukisan biasa. Lukisan itu hidup. Ia berbicara, bernafas, dan berjiwa.Ia menua, mengeriput, berdarah, dan menghadapi maut kematiannya. Lukisan itu mengambil alih kehidupan manusia, menjadikannya kehidupan absurd dan meneror kesombongan manusia. Akhirnya ada sebuah pertanyaan, siapa yang memenangkan kesombongan dunia, lukisan itu atau si manusia. Continue reading “Membongkar Manusia, Mempertanyakan Manusia”

Cinta, Kasta, Rasa

Dua Produksi Teater Berbahasa Bali Himasaba 2011
I Wayan Artika
http://www.balipost.co.id/

MATA kuliah drama pada jurusan-jurusan pendidikan bahasa di Fakultas Bahasa dan Seni, sangat penting karena memiliki dimensi ganda: belajar teori drama dan pertunjukan secara langsung dan menggunakan keterampilan bermain peran untuk keperluan mengajar bagi mahasiswa calon guru. Karena itulah, di Jurusan Pendidikan D3 Bahasa Bali Undiksha Singaraja, mata kuliah drama mendapat porsi waktu yang sangat memadai. Pada akhir semester, mahasiswa wajib mempegelarkan satu produksi drama berbahasa Bali. Continue reading “Cinta, Kasta, Rasa”

Ilusi Demokrasi pada Masa Transisi

Y. Wibowo
Lampung Post, 9 Juni 2004

JIKA dirasa-rasa, menurut pemikiran orang (awam?) selama enam tahun (transisi demokrasi) perjalanan reformasi justru yang terjadi banyak menimbulkan kekacauan, kerusuhan di berbagai daerah, disintegrasi, rendahnya moralitas pemimpin dan masyarakat, konflik SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Sepertinya masih enak zaman dulu (Orba), masyarakat “merasa” memiliki pelindung yang menciptakan rasa aman dan hidup tenang. Sebab, jangan-jangan demokrasi-lah sumber semua kekacauan ini? Continue reading “Ilusi Demokrasi pada Masa Transisi”

Bahasa »